Ketika scroll beranda di instagram, ku lihat semua orang
terlihat bahagia..
Entah karena persahabatan yang begitu indah, pengalaman
pribadi yang menyenangkan, orang-orang hebat yang menikmati kesuksesannya, juga
akan berbagai karunia Allah yang diberikan pada banyak hamba-Nya..
Melihatnya, aku hanya bisa tersenyum..
Itulah manusia, fitrahnya adalah mencari kebahagiaan..
Apapun yang dilakukan oleh setiap manusia, tentunya bermuara
untuk mencari kebahagiaan. Terlepas itu adalah kebahagiaan hakiki di akhirat
ataukah kebahagiaan yang fana di dunia.
Tergantung siapa yang memandangnya, intinya… semuanya
berusaha untuk menjadi bahagia dengan apa yang dilakukannya.
Sebenarnya, terbesit sebuah rasa iri pada mereka yang telah
menemukan sahabat sejatinya, juga bersama-sama mewujudkan impiannya. Juga iri
pada mereka yang berfoto ria bak cerita bisu di layar kaca disertai caption
yang menggugah dunia. Ahh, sosial media.
Terkadang mereka hanya membuat iri pada setiap mata, hingga
orang-orang yang melihatnya bersikeras untuk membuat hal yang serupa, biar terlihat bahagia juga. (nyengir)
Bahkan, banyak juga yang mengikuti apa yang ada di dunia
maya, hanya karena ingin dianggap kekinian saja. Oleh siapa? Entahlah, mungkin
oleh followers bayangannya..
Dari sana, aku mulai berpikir..
Seberapa banyak waktu yang mereka lakukan untuk “sekedar”
scroll beranda dan KEPO-in postingan teman-temannya? Juga waktu yang dilakukan
hanya untuk melihat apa yang sedang kekinian di sosial media? Hingga bisa ikut melakukan
hal yang sama dan posting dengan bangga? “Aku juga bisa!”
Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu adalah nikmat
sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhori)
Seberapa banyak waktu luang yang telah dihabiskan hanya
untuk memuaskan keinginan untuk trend di sosial media? Dan seberapa
banyak amal kebaikan yang terlewat begitu saja hanya karena sibuk ber-posting
ria?
Yang ku sadari, semua keindahan itu hanyalah sia-sia..
Bukan karena aku iri tak bisa seperti mereka, tapi… aku
benar-benar pernah merasakannya.
Seolah menjadi manusia yang tak berguna, karena sibuk di
perantauannya, hingga lupa pada kampung halamannya.
Ketika impiannya adalah surga, namun berleha-leha dalam
berupaya mendapatkannya.
Siapa sudi memberikannya?
Rasul pun pernah bersabda,
“Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang yaitu
meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Imam Malik, dalam kitab
Al-Muwatha)
Jika yang lebih banyak kita lakukan adalah hal yang tidak bermanfaat,
bagaimana bisa dikatakan layak menjadi seorang yang baik islamnya?
Ahh, ruginya….
Padahal masih banyak ayat dan hadits yang belum kita kenal bahkan hafal, masih banyak tsaqofah2 Islam yg belum kita ketahui, banyak pula kisah para shahabat dan salafus shalih yg masih asing di telinga kita, bahkan boleh jadi masih banyak kewajiban yang kita lalaikan dan kemaksiatan yang kita lakukan..
Alangkah indahnya jika semua itu yang menyibukkan kita, hingga akhirnya Allah karuniakan kebahagiaan untuk kita karenanya...
Padahal masih banyak ayat dan hadits yang belum kita kenal bahkan hafal, masih banyak tsaqofah2 Islam yg belum kita ketahui, banyak pula kisah para shahabat dan salafus shalih yg masih asing di telinga kita, bahkan boleh jadi masih banyak kewajiban yang kita lalaikan dan kemaksiatan yang kita lakukan..
Alangkah indahnya jika semua itu yang menyibukkan kita, hingga akhirnya Allah karuniakan kebahagiaan untuk kita karenanya...
Yaa kawan,, bahagia itu sederhana.
Bahagia itu bukanlah foto-foto indah yang mampu menggugah setiap mata, bukan pula ketika banyak orang yang memuji kehidupan kita.
Bahagia itu terletak pada rasa syukur kita atas apa yang
telah diberikan-Nya, juga pada ketaatan kita untuk mencari ridla-Nya.. Karena
kebagiaan hakiki adalah kebahagiaan yang Allah berikan di surga-Nya kelak,,
Cukuplah menyibukkan diri pada ketaatan dan hal-hal
bermanfaat yang mampu menghantarkan kita pada keridlaan-Nya. Tak perlu sibuk
untuk mencari pengakuan orang lain atas kebahagiaan yang kita miliki. Karena
boleh jadi semua itu menjadi penghalang bagi orang lain untuk bersyukur atas
apa yang dimilikinya, hingga terjerumus pada kemudlaratan yang semakin
menjauhkannya dari Rabb nya..
Ketika pun Rasul bahagia, Beliau tak pernah membuat iri para
shahabatnya, justru Beliau memberikan hikmah yang menenangkan dari kebahagiaan
yang dimilikinya. Dan tetap bermuara pada rasa syukur pada Allah Subahanahu
Wa Ta’ala.
Wallahu a’lam.