Rabu, 13 Juli 2016

Bahagia itu sederhana

Ketika scroll beranda di instagram, ku lihat semua orang terlihat bahagia..
Entah karena persahabatan yang begitu indah, pengalaman pribadi yang menyenangkan, orang-orang hebat yang menikmati kesuksesannya, juga akan berbagai karunia Allah yang diberikan pada banyak hamba-Nya..

Melihatnya, aku hanya bisa tersenyum..
Itulah manusia, fitrahnya adalah mencari kebahagiaan..
Apapun yang dilakukan oleh setiap manusia, tentunya bermuara untuk mencari kebahagiaan. Terlepas itu adalah kebahagiaan hakiki di akhirat ataukah kebahagiaan yang fana di dunia.
Tergantung siapa yang memandangnya, intinya… semuanya berusaha untuk menjadi bahagia dengan apa yang dilakukannya.

Sebenarnya, terbesit sebuah rasa iri pada mereka yang telah menemukan sahabat sejatinya, juga bersama-sama mewujudkan impiannya. Juga iri pada mereka yang berfoto ria bak cerita bisu di layar kaca disertai caption yang menggugah dunia. Ahh, sosial media.
Terkadang mereka hanya membuat iri pada setiap mata, hingga orang-orang yang melihatnya bersikeras untuk membuat hal yang serupa,  biar terlihat bahagia juga. (nyengir)
Bahkan, banyak juga yang mengikuti apa yang ada di dunia maya, hanya karena ingin dianggap kekinian saja. Oleh siapa? Entahlah, mungkin oleh followers bayangannya..

Dari sana, aku mulai berpikir..
Seberapa banyak waktu yang mereka lakukan untuk “sekedar” scroll beranda dan KEPO-in postingan teman-temannya? Juga waktu yang dilakukan hanya untuk melihat apa yang sedang kekinian di sosial media? Hingga bisa ikut melakukan hal yang sama dan posting dengan bangga? “Aku juga bisa!”

Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu adalah nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhori)

Seberapa banyak waktu luang yang telah dihabiskan hanya untuk memuaskan keinginan untuk trend di sosial media? Dan seberapa banyak amal kebaikan yang terlewat begitu saja hanya karena sibuk ber-posting ria?

Yang ku sadari, semua keindahan itu hanyalah sia-sia..
Bukan karena aku iri tak bisa seperti mereka, tapi… aku benar-benar pernah merasakannya.
Seolah menjadi manusia yang tak berguna, karena sibuk di perantauannya, hingga lupa pada kampung halamannya.
Ketika impiannya adalah surga, namun berleha-leha dalam berupaya mendapatkannya.
Siapa sudi memberikannya?

Rasul pun pernah bersabda,
“Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang yaitu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Imam Malik, dalam kitab Al-Muwatha)

Jika yang lebih banyak kita lakukan adalah hal yang tidak bermanfaat, bagaimana bisa dikatakan layak menjadi seorang yang baik islamnya?
Ahh, ruginya….

Padahal masih banyak ayat dan hadits yang belum kita kenal bahkan hafal, masih banyak tsaqofah2 Islam yg belum kita ketahui, banyak pula kisah para shahabat dan salafus shalih yg masih asing di telinga kita, bahkan boleh jadi masih banyak kewajiban yang kita lalaikan dan kemaksiatan yang kita lakukan..

Alangkah indahnya jika semua itu yang menyibukkan kita, hingga akhirnya Allah karuniakan kebahagiaan untuk kita karenanya...

Yaa kawan,, bahagia itu sederhana.
Bahagia itu bukanlah foto-foto indah yang mampu menggugah setiap mata, bukan pula ketika banyak orang yang memuji kehidupan kita.
Bahagia itu terletak pada rasa syukur kita atas apa yang telah diberikan-Nya, juga pada ketaatan kita untuk mencari ridla-Nya.. Karena kebagiaan hakiki adalah kebahagiaan yang Allah berikan di surga-Nya kelak,,

Cukuplah menyibukkan diri pada ketaatan dan hal-hal bermanfaat yang mampu menghantarkan kita pada keridlaan-Nya. Tak perlu sibuk untuk mencari pengakuan orang lain atas kebahagiaan yang kita miliki. Karena boleh jadi semua itu menjadi penghalang bagi orang lain untuk bersyukur atas apa yang dimilikinya, hingga terjerumus pada kemudlaratan yang semakin menjauhkannya dari Rabb nya..
Ketika pun Rasul bahagia, Beliau tak pernah membuat iri para shahabatnya, justru Beliau memberikan hikmah yang menenangkan dari kebahagiaan yang dimilikinya. Dan tetap bermuara pada rasa syukur pada Allah Subahanahu Wa Ta’ala.


Wallahu a’lam.