Jumat, 25 Desember 2015

Trial And Error Mom

Dalam sebuah keberhasilan, selalu diawali dengan kegagalan.
Bahkan pepatah mengatakan bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan..
Karena kegagalan pertanda bahwa kita pernah memulai, kita pernah mencoba untuk melangkah..
Yang harus diingat adalah… Seribu langkah pasti dimulai dengan satu langkah.. Maka langkah pertama itulah yang akan menghantarkan kita pada keberhasilan.

Maka, ketika kita ingin mencapai suatu tujuan, tentu harus dimulai dengan langkah pertama, langkah demi langkah,, meskipun kita akan menemukan banyak kegagalan.. namun nikmati sajalah proses itu.. Karena dengan proses itulah kita akan terus belajar untuk lebih lihai dalam langkah-langkah yang selanjutnya..

Biasanya, proses mencoba dan berakhir dengan kegagalan ini sering disebut “Trial and error”
Pernah mendengarnya? (anggap saja pernah, kalau belum pernah maka barusan kamu sudah mendengarnya) J

Pada proses trial and error ini, seseorang sedang melakukan langkah-langkah awalnya..
Contoh saja seseorang yang ingin menjadi seorang koki, tentu ia harus belajar masak terlebih dahulu, tentu saja “belajar” sambil “mempraktekkan” atau menekuninya..
Ia akan terus mencoba memasak berbagai makanan, mencoba resep baru atau bahkan membuat resep sendiri.. dan dalam semua percobaan itu pasti ada kekurangan atau kegagalan yang dilalui..
Entah saat goreng ayam selalu gosong, atau masak sayur selalu keasinan, kadang gak ada rasanya, atau bahkan saat bikin kue bolu, ternyata lupa gak pake pengembang kue hingga akhirnya jadi kue bantet… Begitulah trial an error ^_^

Namuun, jangan pernah kecewa, jangan pernah bosan, dan jangan pernah berhenti untuk terus mencoba.. Karena ingat! Bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan..
Setelah kamu mendapati kesalahan2 dalam memasak (contohnya), maka di lain waktu kamu akan mampu mengantisipasinya, dan bertambahlah ilmu yang kamu punya tentang memasak..

Hmm, begitupun untuk menjadi seorang ibu dan pengurus rumah tangga.. Khususnya bagi perempuan..
Ketika sudah beranjak remaja, seorang perempuan harus senantiasa di-didik dan dilatih untuk terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, terbiasa rapih, dan lain sebagainya..
Dan ketika proses latihan tersebut, tentu akan banyak sekali kegagalan yang didapatkan..
Namun, sekali lagii.. nikmatilah trial and error itu! (Tapi sambil belajar dan terus meningkatkan kualitas diri yaaa..)

Yaa, mungkin awalnya mengerjakan pekerjaan rumah akan terasa berat, namun ketika orang tua mendidik dan menjelaskan pada anak perempuannya bahwa kelak ia akan menjadi seorang ibu dan pengurus rumah tangga, juga sambil melatih dan membimbingnya, maka insyaa Allah semakin lama akan semakin ringan untuk dijalani..

Yang perlu dipahami.. (khususnya untuk perempuan dan bagi diri saya sendiri ^_^)
Bahwa trial and error untuk menjadi ibu dan pengatur urusan rumah tangga, tentu harus disiapkan sedini mungkin, karena trial and error ini akan lebih mudah dijalani ketika diri kita masih “single” alias belum menikah,,
Maka, ketika kita mencoba alias “Trial”, kemudian muncullah “Error”, akan lebih mudah dan lebih termotivasi untuk lebih baik lagii..

Karenaaa, kebayang donk kalau trial and error itu baru kita lakukan saat sudah menikah..
Maka yang akan terjadi adalah suami kita marah2 :D
Ternyataaaa.. akhwat yang kelihatannya bagus, rajin, rapih,, daleman aslinya begini! (Hehe ini contoh ya)
Mending sih kalau suaminya nanti sabar dan mau membimbing dan menasehati dengan cara yang makruf.. Nah kalau justru marah2 dan gak terima gimana? J

Maka,, sebelum menikah…
Perbanyaklah ilmu2 tsaqofah Islam, latih diri untuk menjadi seorang istri, ibu, dan pengurus rumah tangga, dan teruslah melayakkan dan mempersiapkan diri dalam segala hal..
Agar pernikahan yang kelak akan menjadi penyempurna ibadah, akan mampu dijalani dengan damai, tentram dan selaras dengan tujuan..
Jangan sampai tujuan awal menikah untuk “beribadah” justru menjadi kacau karena kurangnya persiapan menikah, khususnya dari pihak perempuan..

Sedikit ceritaa, saya juga sebenarnya masih terus2an trial an error, dari mulai keteteran ngerjain kerjaan rumah, males2an, masakannya belum jelas, dan lain sebagainya..
Namun inilah proses.. Maka, marilah kita berdo’a, agar Allah perkenankan kita kelak untuk menjadi istri yang shalihah lagi menyenangkan hati suami, dan juga menjadi ibu yang mampu mendidik anak2nya dengan nilai2 yang berdasarkan akidah Islam..


Selamat berposes… ^_^

Rabu, 23 Desember 2015

Menjadi ibu itu tak mudah!

Hari ini adalah hari pertama sejak mamah dan papah pergi umroh..
Dan mereka akan pergi sampai sekitar 10 hari, dan aku sebagai satu-satunya anak perempuan di rumah tentu diberikan tanggung jawab untuk mengurus urusan rumah tangga.
Dari mulai mencuci, memasak, menguras kolam kamar mandi, menyetrika, dan lain sebagainya..
Hmm, membayangkan tanggung jawabnya saja sudah pusing bukan kepalang..
Bukan hanya karena pekerjaan’nya banyak saja, tapi karena memang aku tak terbiasa untuk mengurus rumah sepenuhnya..

Bayangkan saja, setiap hari berangkat pagi untuk kuliah, pulang kuliah biasanya sore hari bahkan terkadang malam hari, karena perjalanan yang cukup jauh maka sampai di rumah pun dalam keadaan lelah, letih, lunglai, de el el..
Jadi biasanya yaa lanjut shalat, mengerjakan tugas sebentar dan langsung tidur, pagi harinya pun kembali berangkat menuju kampus..
Walhasil meskipun jadi anak perempuan satu-satunya tetep aja jarang bantuin.. hiks

Sebenernya,, pengen banget yang namanya bisa ngurus urusan rumah tangga dengan habits, tapi tiap kali mau mengerjakan ssuatu, selalu terdahului oleh mamah..
Akhirnya jadi males dan kesannya gak peduli urusan rumah,, padahal bingung L

Siapa sih muslimah yang gak pengen mahir mengatur urusan rumah tangga?
Karena yakin, pasti itu akan menjadi kebanggaan tersendiri ketika sudah menikah..
Untuk taat dan membantu suami tentunya,,
Makanya sering banget berdo’a untuk bisa selalu bantuin mamah, dan selalu coba meskipun seringnya gagal dan keburu pergi kuliah..

Dan pada akhirnyaa, mungkin Allah mengabulkan do’aku dengan cara memberikanku “lahan” untuk menjadi ummu wa rabbatul bayt..
Yaa, 10 hari dalam penantian menunggu mamah dan papah ini, aku diberikan banyak amanah,
Dari mulai membereskan pekerjaan rumah, belanja, memasak, sampai mengatur uang untuk kakak dan adik. Hmmmh, luar biasa!
Itulah salah satu amanah menjadi seorang perempuan! Kelak ia akan menjadi ibu dan pengatur urusan rumah tangga. Menjadi pengatur urusan rumah tangga saja perlu latihan yang kuat, apalagi menjadi seorang ibu?!
Kelak ia akan mendidik anak sebagai amanah yang telah diberikan oleh Allah..
Tentu seorang perempuan harus belajar untuk bersabar dalam mendidik anak, memupuk dirinya dengan tsaqofah Islam, dan melayakkan dirinya untuk menjadi contoh bagi anak-anaknya.


Yaa Allah, mudahkan diri ini untuk menjadi muslimah yang senantiasa memperbaiki dan melayakkan dirinya untuk menjadi hamba yang taat, juga agar menjadi muslimah shalihat yang kelak layak menjadi istri dari hamba yang taat.. Aamiin

Minggu, 20 Desember 2015

Disiplin dalam Perubahan

Setiap manusia normal tentu menginginkan dirinya untuk bisa disiplin dan senantiasa melakukan perubahan menjadi lebih baik.
Apakah kamu pernah atau bahkan sering merasa bahwa kegiatanmu sehari-hari tidak beraturan? Atau kamu sering merasa capek dengan kegiatanmu, namun kegiatan-kegiatanmu tak kunjung selesai dan bahkan menjelma menjadi pekerjaan yang menumpuk?
Dan kamu sering berkomitmen untuk berubah, agar kehidupanmu menjadi lebih stabil, namun semuanya berakhir pada kata-kata atau rencana belaka? Akhirnyaa.. terus begitu saja tak ada rubahnya??

Jika ya, kasusmu sama persis dengan apa yang saya rasakan.. hehe,
Jujur saja, sebenarnya tulisan ini merupakan nasihat dan teguran untuk diri saya sendiri, berhubung saya baru mendapat pencerahan tentang perubahan dan kedisiplinan, maka saya ingin berbagi dan mudah-mudahan dengan menulis ini saya akan semakin memahami konsep dan aksi perubahan yang sebenarnya..
Karena sungguh saya merasa bosan dengan perubahan dalam diri saya yang tak kunjung bisa terlaksanakan, maka inilah waktunya untuk mencoba dan menyelesaikannya J

Kembali pada disiplin dalam perubahan.
Ketika kita merasa bahwa hidup kita tak beraturan, itu merupakan pertanda bagus. Bagus karena kita masih menyadari bahwa ada yang salah dalam diri kita dan harus diperbaiki.
Namun seringkali kita masih bingung untuk melakukan perubahan tersebut secara nyata.

Untuk itu, tentu harus dilakukan sebuah perubahan mendasar dalam diri kita sendiri, dan hal ini memerlukan pengorbanan yang besar dan sulit dengan komitmen untuk disiplin, sabar, dan istiqomah dalam perubahan yang sedang dilalui.
Oleh karena itu, tips wajib untuk melakukan perubahan dalam diri sendiri adalah sebagai berikut:

1.    Planning
Yaa, setiap perubahan yang besar akan memerlukan rencana yang besar pula. Dalam hal ini, cobalah untuk merancang sebuah planning yang akan kamu lalui dalam proses perubahan. Perencanaan ini meliputi tujuan yang hendak dicapai, hal-hal yang “harus” kamu lakukan, konsekuensi apa saja yang harus kamu jalani, dan apa saja yang kamu butuhkan agar perubahan ini berhasil.
Sebagai contoh, kamu ingin agar kehidupan dan kegiatanmu menjadi lebih teratur dan terarah, agar kamu bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat, serta selaras dengan tujuan atau cita-cita kamu kedepannya. Maka yang kamu butuhkan adalah manajemen waktu dan prioritas pekerjaan yang harus didahulukan. Boleh jadi selama ini kamu merasa lelah namun pekerjaan tak kunjung selesai adalah karena kamu tak pandai memanage waktu dan justru melakukan hal-hal yang tidak berguna hingga akhirnya pekerjaanmu yang sesungguhna terlalaikan.
Maka, cobalah membuat list pekerjaan apa saja yang harus kamu lakukan setiap harinya, buatlah list yang detail dan catat list tersebut di dinding kamarmu, layar handphonemu dan dimanapun agar kamu mudah untuk mengingatnya.

2.    Actioning
Sebuah rencana yang besar hanya akan menjadi lembaran dan bualan yang tak berarti tanpa adanya Action yang pasti dari dalam diri kita sendiri. Oleh karena itu, setelah kita membuat list yang detail berupa hal-hal yang harus kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah menjalani rencana tersebut dengan aksi yang nyata. Sesulit apapun itu, usahakanlah semaksimal mungkin untuk menyelesaikan list pekerjaan harianmu dengan sempurna!
Jika kamu telah melakukan satu pekerjaan, maka langsung kerjakanlah list pekerjaanmu yang selanjutnya, jangan biarkan dirimu terlena oleh waktu luang hingga akhirnya menghancurkan rencana yang telah kamu buat. Namun bagaimana jika kita merasa bahwa “sepertinya untuk hari ini aku tak bisa melakukan pekerjaan yang satu ini”??? Jika kamu berpikiran seperti itu, maka segeralah untuk membuang pikiran itu! Karena boleh jadi pikiran itu merupakan bisikan syaitan agar kamu tak mengerjakan pekerjaanmu hingga akhirnya akan terus menerus seperti itu. Coba bayangkan, jika setiap harinya kamu berpikiran seperti itu, maka kamu tak akan pernah sempat untuk melaksanakannya, hingga akhirnya rencanamu akan berubah menjadi bualan semata.
Maka, lakukanlah dengan semaksimal mungkin hal-hal yang sudah kamu catat! Namun, ketika pada hari itu banyak hal-hal “tak terduga” yang membuatmu melalaikan sebagian pekerjaanmu, itu masih bisa dimaklumi, tapi keesokan harinya kamu harus SEGERA melaksanakan hutang pekerjaanmu pada hari itu. Dan yang terpenting, teruslah berdo’a, berusaha, istiqomah, dan tawakkal kepada Allah agar kamu bisa senantiasa menjalani amanah-amanahmu dengan sebaik-baiknya.

3.    Controlling
Seringkali, rencana yang kita buat bisa kita lakukan dengan aksi yang nyata. Namun hanya bertahan beberapa minggu atau beberapa hari saja, dan akhirnya kembali berantakan semua. Hal ini terjadi karena tidak adanya pihak lain yang melakukan pengontrolan atas perubahan dirimu. Maka untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam dirimu, kamu akan selalu membutuhkan guru atau paling tidak pendamping yang akan senantiasa mengontrol dirimu dan sejauh mana kamu menjalani amanah-amanah yang telah kamu tulis.
Proses pengontrolan ini bisa dilakukan oleh kakak/adik, orang tua, teman, atau musyrif / musyrifahmu. Oleh karena itu, sebelum melakukan perubahan berikanlah list planning yang telah kamu buat sebelumnya, utarakan pada pengontrol bahwa kamu ingin melakukan perubahan dan kamu membutuhkan seseorang yang mengontrol, dan meminta tolonglah agar ia ridla untuk membantu mengontrol pekerjaanmu agar mampu berubah dengan maksimal.
Jika pengontrol mendapati dirimu tidak melakukan amanah, maka ia berhak untuk menasehatimu dan memberikan masukan-masukan atau sugesti positif untuk dirimu. Dan sebelumnya harus ada konsekuensi yang disepakati bila kamu tidak menjalani amanah dikarenakan hal yang tidak syar’i.

4.    Evaluating
Setelah kamu telah melakukan proses Planning, Actioning, dan Controlling maka langkah yang selanjutnya adalah proses Evaluasi. Mengapa hal ini kamu perlukan? Sebab, untuk menghasilkan perubahan yang maksimal, maka kamu harus senantiasa melakukan proses evaluasi agar kamu mengetahui sejauh mana kamu bisa mengamalkan apa yang kamu rencanakan, seefektif apa rencana yang kamu buat, dan apa saja hal-hal yang menjadi kendala dalam melakukan perubahan hingga akhirnya kamu memerlukan cara atau tambahan lain untuk memperbaikinya.
Evaluasi ini bisa berupa ”Muhasabah Yaumiyah” (Perhitungan setiap hari) yang kamu lakukan sebelum tidur, muhasabah yaumiyah ini untuk mengontrol, pada hari ini amanah apa saja yang sudah dijalani dan belum dijalani, jika belum maka silahkan bertanya pada diri sendiri, kenapa kita belum melaksanakannya? Atau kita juga bisa memperhitungkan, apakah hari ini lebih banyak kebaikan ataukah dosa yang kita perbuat? Sehingga evaluasi ini bisa memotivasi kita untuk lebih baik lagi keesokan harinya. Lalu, evaluasi ini pun bisa berupa sharing dengan pendamping / pengontrol kamu untuk membicarakan hal-hal yang perlu di evaluasi dalam masa perubahan ini.



Insyaa Allah, dengan dilandasi niat yang ikhlas karena Allah untuk melakukan perubahan agar mampu semakin meningkatkan ketakwaan pada Allah, mudah2an usaha kita diberi kemudahan, kelancaran, dan juga keistiqomahan agar selalu berada dalam koridor syara’.. Aamiin

Sabtu, 19 Desember 2015

Pengemban Dakwah atau Ikut-ikutan Dakwah?

Sebenarnya, ini adalah tulisan untuk menegur para pengemban dakwah dan khususnya diri saya sendiri. Sebuah renungan sekaligus tamparan bagi orang-orang yang melabeli dirinya sebagai seorang pengemban dakwah.

Dakwah merupakan aktivitas yang berat namun dikatakan mulia, sebab gunung, langit, dan lautan pun tak sanggup untuk mengemban amanah ini, hingga akhirnya diamanahkan kepada manusia.
Jelas, karena Allah tau bahwa manusia mampu mengembannya..
Maka, Allah telah mewajibkan dakwah untuk kita semua. Allah telah menyeru dalam firman-Nya:

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka lah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran [3] : 104)

Dalam ayat ini jelas Allah telah mewajibkan diantara manusia ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan dan melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar (dakwah).
Segolongan ummat ini tentu adalah orang-orang mukmin. Dan aktifitas dakwah ini merupakan kewajiban dengan derajat fardlu ‘ain atau wajib bagi setiap individu muslim.

Atas dasar inilah, seorang muslim selain diwajibkan untuk mengerjakan ibadah mahdlah yang wajib, juga diwajibkan berdakwah dalam rangka menyebarkan dan menerapkan diin (agama) yang mulia ini agar menjadi Rahmatan lil ‘alamiin.
Namun, pada kenyataannya sungguh sangat sedikit ummat muslim yang melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar, lantaran ummat Islam saat ini justru jauh dari nilai-nilai Islam.
Jangankan melakukan aktifitas dakwah, shalat wajib pun banyak yang masih meninggalkan, dan ironisnya ummat muslim tidak tau akan kewajiban mereka untuk melakukan aktifitas dakwah.

Oleh karena itu, saat ini muncullah berbagai jama’ah-jama’ah berlabel Islam yang menggusung nilai-nilai Islam dan masing-masing melakukan aktivitas dakwah untuk menyadarkan ummat Islam akan jatidirinya sebagai seorang muslim.
Para jama’ah yang ada sekarang pun mulai membentuk struktur organisasi dan pengkaderan untuk menyambung estafet dakwah bagi penerus-penerusnya..
Namun, karena begitu derasnya opini dan pengaruh sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang digusung oleh orang-orang kafir, semakin surut pula lah semangat-semangat mereka yang melabeli dirinya sebagai pengemban dakwah, dan hanya mereka yang memegang Islam sebagai akidah yang kokoh dalam menjalani kehidupan lah yang masih terus menyuarakan Islam untuk diterapkan, ditengah-tengah kecaman orang-orang yang mencela.

Bagi kalian ataupun saya yang sudah berkomitmen untuk menjalani aktifitas dakwah sebagai poros kehidupan, apakah status kita benar-benar seorang pengemban dakwah yang mengemban dakwahnya di setiap perjalanan kehidupannya ataukah hanya ikut-ikutan dakwah lantaran ada yang mengajak atau karena senang dengan jama’ah yang kita ikuti?

Hal pertama yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah “Kita berdakwah untuk Allah, agar aturan-aturan Allah berupa syariat Islam yang Kaaffah (menyeluruh) bisa diterapkan sebagai aturan yang mengatur individu, masyarakat, dan negara yang akhirnya mampu mewujudkan cita-cita kita agar Islam menjadi Rahmatan lil ‘alamiin untuk seluruh manusia di dunia ini.”
Yang artinya, kita berdakwah bukan karena diajak teman, ikut-ikutan, ataupun karena jama’ah yang kita ikuti. Melainkan hanya karena Allah semata, karena aktifitas ini merupakan aktifitas yang diwajibkan oleh Allah untuk dijalani oleh kita semua sebagai seorang muslim.

Jika masalah itu clear (selesai). Maka pertanyaan selanjutnya adalah…
“Apakah kita sudah benar-benar menjadikan aktifitas dakwah sebagai poros kehidupan?”
“Sudahkah kita melayakkan diri sebagai pengemban dakwah yang tujuannya adalah untuk menolong agama Allah?”
“Sudahkah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar perjuangan kita menyeru ummat ini mampu dan layak untuk diberikan pertolongan oleh Allah?”
“Apakah perjuangan kita untuk menerapkan Islam kaaffah sebagai aturan kehidupan akan diberikan kemenangan dan keridlaan oleh Allah?”

Jika kita mengharapkan pertolongan Allah datang, tentu kita harus menempuh jalan yang shahih agar aktifitas yang kita lakukan diridlai oleh Allah sehingga Allah memberikan pertolongannya kepada kita. Oleh karena itu, dalam melakukan aktifitas dakwah ada 2 hal yang perlu kita perhatikan:
1.    Apakah aktifitas jama’ah yang kita ikuti merupakan aktifitas dakwah yang shahih menuju penegakkan syariah Islam secara kaaffah yang dilakukan dengan mengikuti thariqoh dakwah Rasul ataukah tidak? Ataukah justru kita berlepas diri dari jama’ah dan berdakwah sendiri dengan dalih tak ingin bergolong-golongan?
2.    Apakah kita sebagai seorang muslim dan seorang yang telah berkomitmen menjadi pengemban dakwah sudah benar-benar melakukan aktifitas dakwah dan melayakkan diri sebagai penolong agama Allah?

Pertama, mengapa jama’ah merupakan hal penting yang perlu dibahas?
Hal ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencontohkan kepada kita untuk dakwah secara berjama’ah seperti yang dilakukan oleh para shahabat ketika turun ayat berkenaan dakwah secara terang-terangan hingga akhirnya mereka membentuk sebuah jama’ah dalam rangka menyebar luaskan diinul Islam. Terkait mereka yang tak ingin bergolongan dan memisahkan diri dari jama’ah, mereka sungguh telah melalaikan satu kewajiban yakni dakwah secara berjama’ah.

Setelah kita berkomitmen untuk dakwah secara berjama’ah, tentu ada hal yang perlu kita perhatikan. Yakni apakah jama’ah yang kita ikuti merupakan jama’ah yang shahih ataupun tidak?
Tentu saya pun akan memilih diantara jama’ah yang ada, manakah jama’ah yang shahih? Tentu hal ini dipilih bukan berdasarkan perasaan suka / tidak, apalagi dipilih karena keturunan.

Dalam memilih sebuah jama’ah, kita harus memperhatikan tujuan dan jalan yang ditempuh dalam melakukan aktifitas dakwah. Jika tujuannya adalah untuk menerapkan Syariah Islam secara Kaaffah agar mampu diterapkan secara menyeluruh ke seluruh dunia dalam rangka mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamiin, insyaa Allah syarat pertama telah terpenuhi.
Yang kedua, Bagaimana jalan yang ditempuh oleh jama’ah tersebut? Apakah sesuai dengan thariqah dakwah Rasul ataukah tidak?
Didalam Sirah Nabawiyah telah diriwayatkan bahwa Rasul melakukan aktifitas dakwah dalam 3 tahap: (1) Melakukan pembinaan kepada para shahabat dalam rangka menumbuhkan keimanan yang kokoh didasarkan akidah yang benar, yakni yang lahir dari pemikiran dan diperkuat dengan perasaan. (2) Membentuk jama’ah dakwah dalam rangka menyebarluaskan Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan manusia. (3) Menerapkan Islam Kaaffah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan dengan mendirikan Negara Islam di Madinah yang dipimpin oleh Rasul sendiri sebagai seorang Khalifah.

Thariqah dakwah ini telah terbukti berhasil dalam menyebarkan Islam ke 2/3 dunia. Namun sayang karena begitu gencarnya orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam, akhirnya ummat Islam pun tersekat-sekat dengan Nasionalisme yang akhirnya membuat ummat Islam menjadi lemah dan tidak memiliki pelindung.
Maka, pilihlah jama’ah yang shahih yang mampu mengarahkanmu untuk melakukan aktifitas yang shahih sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasul.

Kedua, yang harus kita pahami dan sadari. Kita adalah orang-orang yang telah Allah pilih dan telah Allah beri kesempatan untuk menjalani aktifitas mulia ini, yakni Dakwah.
Kita mengetahui bahwa dakwah dengan komitmen untuk selalu melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar untuk menerapkan Islam kaaffah merupakan aktifitas yang sulit, penuh pengorbanan, dan banyaknya hambatan yang dilalui.
Yaa, begitulah dakwah di akhir jaman, begitu banyak godaan yang menimpa untuk sekedar futur atau bahkan keluar dari jama’ah hingga melanggar banyak hukum syara’.
Oleh karena itu, kenalilah diri kita masing2. Apakah kita sudah benar-benar layak menjadi seorang pengemban dakwah ataukah belum?

Dalam kitab At-Takattul yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, beliau mengatakan bahwa pengemban dakwah merupakan uyunul ummah (Mutiara Ummat). Yaa, pengemban dakwah diibaratkan sebagai mutiara yang bersinar di tengah-tengah lumpur.
Bagaimana tidak? Ketika kebanyakan orang melakukan berbagai aktifitas yang haram, tidak jelas, dan menghancurkan diri sendiri serta masyarakat, para pengemban dakwah justru menghindari semua itu, dan mereka berusaha melawan arus untuk menyadarkan ummat yang berjalan menuju kehancuran bagai air yang mengalir jatuh ke air terjun.
Selain itu, para pengemban dakwah senantiasa melakukan aktifitas mendekatkan diri kepada Allah untuk mencari keridlaan-Nya dan selalu meminta agar ia diberikan pertolongan untuk memenangkan agama-Nya..

Lagi-lagi, pertanyaannya adalah “Apakah kita sudah layak menjadi penolong agama-Nya?”

Coba kita cek pada diri kita sendiri..
Disaat kesibukan dunia seperti pekerjaan rumah, kuliah, kerja, dan aktifitas lainnya. Apakah kita tetap menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan? Apakah di sela-sela perkuliahan atau pekerjaan kita menyeru orang-orang disekeliling kita untuk sadar akan hakikat kehidupan mereka di dunia? Apakah ketika disela-sela perjalanan kehidupan kita menemukan banyak kemaksiatan lantas kita melakukan aktifitas mencegah kemunkaran? Sudahkah?

Lalu, disaat orang lain tertidur pulas di sepertiga malam, apakah kita berusaha untuk senantiasa bangun dan mendekatkan diri serta berdo’a kepada-Nya agar Ia meridlai segala aktifitas kita untuk menolong agama-Nya? Dan apakah disaat orang-orang bersegera untuk pergi dari masjid lantaran begitu banyak kesibukan, kita masih menyempatkan diri untuk shalat sunnah beberapa rakaat? Sudahkah?

Kemudian, apakah disaat orang lain bangun setelah shubuh namun kita bangun sebelum shubuh untuk melaksanakan sahur dalam rangka menjalani puasa sunnah?? Seberapa seringkah kita mendekatkan diri kepada-Nya? Seberapa seringkah kita berdo’a pada-Nya? Seberapa istiqomahkah kita dalam menjalani ibadah-ibadah wajib dan sunnah dalam rangka menumbuhkan kesabaran dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?? Sudahkah? Seberapa banyak? Dan seistiqomah apa kita???

Begitu banyak pertanyaan besar yang mampu menampar para pengemban dakwah yang masih lalai seperti saya ini… Begitu banyak hal-hal yang terlupakan seiring banyaknya aktifitas mubah yang menyibukkan kita hingga akhirnya lupa akan jatidiri kita sebagai seorang pengemban dakwah..

Maka, nasihatku untuk diriku sendiri dan saudara-saudaraku kaum muslimin khususnya para pengemban dakwah..
Sungguh aktifitas dakwah merupakan aktifitas yang mulia dan merupakan aktifitas yang diemban oleh para Nabi dan Rasul serta para Syuhada, maka bergembiralah!
Namun jangan sampai kita merasa bangga hingga akhirnya melupakan tugas kita yang sebenarnya..

Pesanku,, laksanakanlah ibadah-ibadah wajib dengan penuh kekhusyu’an, berusahalah untuk senantiasa mendawamkan diri atas ibadah-ibadah sunnah, kaya-kanlah diri dengan tsaqofah Islam untuk mengokohkanmu dalam ibadah dan dakwah, dekatkanlah diri kepada Allah dengan senantiasa berdo’a kepada-Nya, karena do’a adalah senjata kaum muslimin.. Tingkatkanlah nafsiyah, dan jadikanlah setiap aktifitas kita memiliki ruh idrak sillah billah (kesadaran hubungan dengan Allah) agar setiap aktifitas kita bernilai ibadah karena-Nya. Jagalah diri dari perbuatan maksiat dan istiqomahlah dalam ketakwaan..

Mudah-mudahan Allah mudahkan diri ini untuk mengerjakan atas setiap seruan yang tertulis dan terucap, semoga Allah muliakan kita dengan diinul Islam ini. Aamiin,

Saudaramu,

Wasfah Khofifah