Sebenarnya, ini adalah tulisan untuk menegur para pengemban
dakwah dan khususnya diri saya sendiri. Sebuah renungan sekaligus tamparan bagi
orang-orang yang melabeli dirinya sebagai seorang pengemban dakwah.
Dakwah merupakan aktivitas yang berat namun dikatakan mulia,
sebab gunung, langit, dan lautan pun tak sanggup untuk mengemban amanah ini,
hingga akhirnya diamanahkan kepada manusia.
Jelas, karena Allah tau bahwa manusia mampu mengembannya..
Maka, Allah telah mewajibkan dakwah untuk kita semua. Allah
telah menyeru dalam firman-Nya:
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang
menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar; mereka lah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran [3] :
104)
Dalam ayat ini jelas Allah telah mewajibkan diantara manusia
ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan dan melakukan aktifitas amar
ma’ruf nahyi munkar (dakwah).
Segolongan ummat ini tentu adalah orang-orang mukmin. Dan
aktifitas dakwah ini merupakan kewajiban dengan derajat fardlu ‘ain atau
wajib bagi setiap individu muslim.
Atas dasar inilah, seorang muslim selain diwajibkan untuk
mengerjakan ibadah mahdlah yang wajib, juga diwajibkan berdakwah dalam rangka
menyebarkan dan menerapkan diin (agama) yang mulia ini agar menjadi Rahmatan
lil ‘alamiin.
Namun, pada kenyataannya sungguh sangat sedikit ummat muslim
yang melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar, lantaran ummat Islam saat
ini justru jauh dari nilai-nilai Islam.
Jangankan melakukan aktifitas dakwah, shalat wajib pun
banyak yang masih meninggalkan, dan ironisnya ummat muslim tidak tau akan
kewajiban mereka untuk melakukan aktifitas dakwah.
Oleh karena itu, saat ini muncullah berbagai jama’ah-jama’ah
berlabel Islam yang menggusung nilai-nilai Islam dan masing-masing melakukan
aktivitas dakwah untuk menyadarkan ummat Islam akan jatidirinya sebagai seorang
muslim.
Para jama’ah yang ada sekarang pun mulai membentuk struktur
organisasi dan pengkaderan untuk menyambung estafet dakwah bagi
penerus-penerusnya..
Namun, karena begitu derasnya opini dan pengaruh sekularisme
(memisahkan agama dari kehidupan) yang digusung oleh orang-orang kafir, semakin
surut pula lah semangat-semangat mereka yang melabeli dirinya sebagai pengemban
dakwah, dan hanya mereka yang memegang Islam sebagai akidah yang kokoh dalam
menjalani kehidupan lah yang masih terus menyuarakan Islam untuk diterapkan,
ditengah-tengah kecaman orang-orang yang mencela.
Bagi kalian ataupun saya yang sudah berkomitmen untuk
menjalani aktifitas dakwah sebagai poros kehidupan, apakah status kita
benar-benar seorang pengemban dakwah yang mengemban dakwahnya di setiap
perjalanan kehidupannya ataukah hanya ikut-ikutan dakwah lantaran ada yang
mengajak atau karena senang dengan jama’ah yang kita ikuti?
Hal pertama yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah
“Kita berdakwah untuk Allah, agar aturan-aturan Allah berupa syariat Islam yang
Kaaffah (menyeluruh) bisa diterapkan sebagai aturan yang mengatur individu,
masyarakat, dan negara yang akhirnya mampu mewujudkan cita-cita kita agar Islam
menjadi Rahmatan lil ‘alamiin untuk seluruh manusia di dunia ini.”
Yang artinya, kita berdakwah bukan karena diajak teman,
ikut-ikutan, ataupun karena jama’ah yang kita ikuti. Melainkan hanya karena
Allah semata, karena aktifitas ini merupakan aktifitas yang diwajibkan oleh
Allah untuk dijalani oleh kita semua sebagai seorang muslim.
Jika masalah itu clear
(selesai). Maka pertanyaan selanjutnya adalah…
“Apakah kita sudah benar-benar menjadikan aktifitas dakwah
sebagai poros kehidupan?”
“Sudahkah kita melayakkan diri sebagai pengemban dakwah yang
tujuannya adalah untuk menolong agama Allah?”
“Sudahkah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar
perjuangan kita menyeru ummat ini mampu dan layak untuk diberikan pertolongan
oleh Allah?”
“Apakah perjuangan kita untuk menerapkan Islam kaaffah
sebagai aturan kehidupan akan diberikan kemenangan dan keridlaan oleh Allah?”
Jika kita mengharapkan pertolongan Allah datang, tentu kita
harus menempuh jalan yang shahih agar aktifitas yang kita lakukan
diridlai oleh Allah sehingga Allah memberikan pertolongannya kepada kita. Oleh
karena itu, dalam melakukan aktifitas dakwah ada 2 hal yang perlu kita
perhatikan:
1.
Apakah aktifitas jama’ah yang
kita ikuti merupakan aktifitas dakwah yang shahih menuju penegakkan syariah
Islam secara kaaffah yang dilakukan dengan mengikuti thariqoh dakwah Rasul
ataukah tidak? Ataukah justru kita berlepas diri dari jama’ah dan berdakwah
sendiri dengan dalih tak ingin bergolong-golongan?
2.
Apakah kita sebagai seorang
muslim dan seorang yang telah berkomitmen menjadi pengemban dakwah sudah
benar-benar melakukan aktifitas dakwah dan melayakkan diri sebagai penolong
agama Allah?
Pertama, mengapa jama’ah
merupakan hal penting yang perlu dibahas?
Hal ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam telah mencontohkan kepada kita untuk dakwah secara berjama’ah
seperti yang dilakukan oleh para shahabat ketika turun ayat berkenaan dakwah
secara terang-terangan hingga akhirnya mereka membentuk sebuah jama’ah dalam
rangka menyebar luaskan diinul Islam. Terkait mereka yang tak ingin bergolongan
dan memisahkan diri dari jama’ah, mereka sungguh telah melalaikan satu
kewajiban yakni dakwah secara berjama’ah.
Setelah kita berkomitmen untuk dakwah secara berjama’ah,
tentu ada hal yang perlu kita perhatikan. Yakni apakah jama’ah yang kita ikuti
merupakan jama’ah yang shahih ataupun tidak?
Tentu saya pun akan memilih diantara jama’ah yang ada,
manakah jama’ah yang shahih? Tentu hal ini dipilih bukan berdasarkan perasaan
suka / tidak, apalagi dipilih karena keturunan.
Dalam memilih sebuah jama’ah, kita harus memperhatikan
tujuan dan jalan yang ditempuh dalam melakukan aktifitas dakwah. Jika tujuannya
adalah untuk menerapkan Syariah Islam secara Kaaffah agar mampu diterapkan
secara menyeluruh ke seluruh dunia dalam rangka mewujudkan Islam sebagai
Rahmatan lil ‘alamiin, insyaa Allah syarat pertama telah terpenuhi.
Yang kedua, Bagaimana jalan yang ditempuh oleh jama’ah
tersebut? Apakah sesuai dengan thariqah dakwah Rasul ataukah tidak?
Didalam Sirah Nabawiyah telah diriwayatkan bahwa Rasul
melakukan aktifitas dakwah dalam 3 tahap: (1) Melakukan pembinaan kepada para
shahabat dalam rangka menumbuhkan keimanan yang kokoh didasarkan akidah yang
benar, yakni yang lahir dari pemikiran dan diperkuat dengan perasaan. (2)
Membentuk jama’ah dakwah dalam rangka menyebarluaskan Islam sebagai agama yang
mengatur kehidupan manusia. (3) Menerapkan Islam Kaaffah (menyeluruh) dalam
setiap aspek kehidupan dengan mendirikan Negara Islam di Madinah yang dipimpin
oleh Rasul sendiri sebagai seorang Khalifah.
Thariqah dakwah ini telah terbukti berhasil dalam menyebarkan
Islam ke 2/3 dunia. Namun sayang karena begitu gencarnya orang-orang kafir untuk
menghancurkan Islam, akhirnya ummat Islam pun tersekat-sekat dengan
Nasionalisme yang akhirnya membuat ummat Islam menjadi lemah dan tidak memiliki
pelindung.
Maka, pilihlah jama’ah yang shahih yang mampu mengarahkanmu
untuk melakukan aktifitas yang shahih sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh
Rasul.
Kedua, yang harus kita pahami dan sadari. Kita adalah
orang-orang yang telah Allah pilih dan telah Allah beri kesempatan untuk
menjalani aktifitas mulia ini, yakni Dakwah.
Kita mengetahui bahwa dakwah dengan komitmen untuk selalu
melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar untuk menerapkan Islam kaaffah
merupakan aktifitas yang sulit, penuh pengorbanan, dan banyaknya hambatan yang
dilalui.
Yaa, begitulah dakwah di akhir jaman, begitu banyak godaan
yang menimpa untuk sekedar futur atau bahkan keluar dari jama’ah hingga
melanggar banyak hukum syara’.
Oleh karena itu, kenalilah diri kita masing2. Apakah kita
sudah benar-benar layak menjadi seorang pengemban dakwah ataukah belum?
Dalam kitab At-Takattul yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin
An-Nabhani, beliau mengatakan bahwa pengemban dakwah merupakan uyunul ummah
(Mutiara Ummat). Yaa, pengemban dakwah diibaratkan sebagai mutiara yang
bersinar di tengah-tengah lumpur.
Bagaimana tidak? Ketika kebanyakan orang melakukan berbagai
aktifitas yang haram, tidak jelas, dan menghancurkan diri sendiri serta
masyarakat, para pengemban dakwah justru menghindari semua itu, dan mereka
berusaha melawan arus untuk menyadarkan ummat yang berjalan menuju kehancuran
bagai air yang mengalir jatuh ke air terjun.
Selain itu, para pengemban dakwah senantiasa melakukan
aktifitas mendekatkan diri kepada Allah untuk mencari keridlaan-Nya dan selalu
meminta agar ia diberikan pertolongan untuk memenangkan agama-Nya..
Lagi-lagi, pertanyaannya adalah “Apakah kita sudah layak
menjadi penolong agama-Nya?”
Coba kita cek pada diri kita sendiri..
Disaat kesibukan dunia seperti pekerjaan rumah, kuliah,
kerja, dan aktifitas lainnya. Apakah kita tetap menjadikan dakwah sebagai poros
kehidupan? Apakah di sela-sela perkuliahan atau pekerjaan kita menyeru
orang-orang disekeliling kita untuk sadar akan hakikat kehidupan mereka di
dunia? Apakah ketika disela-sela perjalanan kehidupan kita menemukan banyak
kemaksiatan lantas kita melakukan aktifitas mencegah kemunkaran? Sudahkah?
Lalu, disaat orang lain tertidur pulas di sepertiga malam,
apakah kita berusaha untuk senantiasa bangun dan mendekatkan diri serta berdo’a
kepada-Nya agar Ia meridlai segala aktifitas kita untuk menolong agama-Nya? Dan
apakah disaat orang-orang bersegera untuk pergi dari masjid lantaran begitu
banyak kesibukan, kita masih menyempatkan diri untuk shalat sunnah beberapa
rakaat? Sudahkah?
Kemudian, apakah disaat orang lain bangun setelah shubuh
namun kita bangun sebelum shubuh untuk melaksanakan sahur dalam rangka
menjalani puasa sunnah?? Seberapa seringkah kita mendekatkan diri kepada-Nya?
Seberapa seringkah kita berdo’a pada-Nya? Seberapa istiqomahkah kita dalam
menjalani ibadah-ibadah wajib dan sunnah dalam rangka menumbuhkan kesabaran dan
ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?? Sudahkah? Seberapa banyak?
Dan seistiqomah apa kita???
Begitu banyak pertanyaan besar yang mampu menampar para
pengemban dakwah yang masih lalai seperti saya ini… Begitu banyak hal-hal yang
terlupakan seiring banyaknya aktifitas mubah yang menyibukkan kita hingga
akhirnya lupa akan jatidiri kita sebagai seorang pengemban dakwah..
Maka, nasihatku untuk diriku sendiri dan saudara-saudaraku
kaum muslimin khususnya para pengemban dakwah..
Sungguh aktifitas dakwah merupakan aktifitas yang mulia dan
merupakan aktifitas yang diemban oleh para Nabi dan Rasul serta para Syuhada,
maka bergembiralah!
Namun jangan sampai kita merasa bangga hingga akhirnya
melupakan tugas kita yang sebenarnya..
Pesanku,, laksanakanlah ibadah-ibadah wajib dengan penuh
kekhusyu’an, berusahalah untuk senantiasa mendawamkan diri atas ibadah-ibadah
sunnah, kaya-kanlah diri dengan tsaqofah Islam untuk mengokohkanmu dalam ibadah
dan dakwah, dekatkanlah diri kepada Allah dengan senantiasa berdo’a kepada-Nya,
karena do’a adalah senjata kaum muslimin.. Tingkatkanlah nafsiyah, dan
jadikanlah setiap aktifitas kita memiliki ruh idrak sillah billah
(kesadaran hubungan dengan Allah) agar setiap aktifitas kita bernilai ibadah
karena-Nya. Jagalah diri dari perbuatan maksiat dan istiqomahlah dalam
ketakwaan..
Mudah-mudahan Allah mudahkan diri ini untuk mengerjakan atas
setiap seruan yang tertulis dan terucap, semoga Allah muliakan kita dengan
diinul Islam ini. Aamiin,
Saudaramu,
Wasfah Khofifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar