Jumat, 25 Desember 2015

Trial And Error Mom

Dalam sebuah keberhasilan, selalu diawali dengan kegagalan.
Bahkan pepatah mengatakan bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan..
Karena kegagalan pertanda bahwa kita pernah memulai, kita pernah mencoba untuk melangkah..
Yang harus diingat adalah… Seribu langkah pasti dimulai dengan satu langkah.. Maka langkah pertama itulah yang akan menghantarkan kita pada keberhasilan.

Maka, ketika kita ingin mencapai suatu tujuan, tentu harus dimulai dengan langkah pertama, langkah demi langkah,, meskipun kita akan menemukan banyak kegagalan.. namun nikmati sajalah proses itu.. Karena dengan proses itulah kita akan terus belajar untuk lebih lihai dalam langkah-langkah yang selanjutnya..

Biasanya, proses mencoba dan berakhir dengan kegagalan ini sering disebut “Trial and error”
Pernah mendengarnya? (anggap saja pernah, kalau belum pernah maka barusan kamu sudah mendengarnya) J

Pada proses trial and error ini, seseorang sedang melakukan langkah-langkah awalnya..
Contoh saja seseorang yang ingin menjadi seorang koki, tentu ia harus belajar masak terlebih dahulu, tentu saja “belajar” sambil “mempraktekkan” atau menekuninya..
Ia akan terus mencoba memasak berbagai makanan, mencoba resep baru atau bahkan membuat resep sendiri.. dan dalam semua percobaan itu pasti ada kekurangan atau kegagalan yang dilalui..
Entah saat goreng ayam selalu gosong, atau masak sayur selalu keasinan, kadang gak ada rasanya, atau bahkan saat bikin kue bolu, ternyata lupa gak pake pengembang kue hingga akhirnya jadi kue bantet… Begitulah trial an error ^_^

Namuun, jangan pernah kecewa, jangan pernah bosan, dan jangan pernah berhenti untuk terus mencoba.. Karena ingat! Bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan..
Setelah kamu mendapati kesalahan2 dalam memasak (contohnya), maka di lain waktu kamu akan mampu mengantisipasinya, dan bertambahlah ilmu yang kamu punya tentang memasak..

Hmm, begitupun untuk menjadi seorang ibu dan pengurus rumah tangga.. Khususnya bagi perempuan..
Ketika sudah beranjak remaja, seorang perempuan harus senantiasa di-didik dan dilatih untuk terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, memasak, terbiasa rapih, dan lain sebagainya..
Dan ketika proses latihan tersebut, tentu akan banyak sekali kegagalan yang didapatkan..
Namun, sekali lagii.. nikmatilah trial and error itu! (Tapi sambil belajar dan terus meningkatkan kualitas diri yaaa..)

Yaa, mungkin awalnya mengerjakan pekerjaan rumah akan terasa berat, namun ketika orang tua mendidik dan menjelaskan pada anak perempuannya bahwa kelak ia akan menjadi seorang ibu dan pengurus rumah tangga, juga sambil melatih dan membimbingnya, maka insyaa Allah semakin lama akan semakin ringan untuk dijalani..

Yang perlu dipahami.. (khususnya untuk perempuan dan bagi diri saya sendiri ^_^)
Bahwa trial and error untuk menjadi ibu dan pengatur urusan rumah tangga, tentu harus disiapkan sedini mungkin, karena trial and error ini akan lebih mudah dijalani ketika diri kita masih “single” alias belum menikah,,
Maka, ketika kita mencoba alias “Trial”, kemudian muncullah “Error”, akan lebih mudah dan lebih termotivasi untuk lebih baik lagii..

Karenaaa, kebayang donk kalau trial and error itu baru kita lakukan saat sudah menikah..
Maka yang akan terjadi adalah suami kita marah2 :D
Ternyataaaa.. akhwat yang kelihatannya bagus, rajin, rapih,, daleman aslinya begini! (Hehe ini contoh ya)
Mending sih kalau suaminya nanti sabar dan mau membimbing dan menasehati dengan cara yang makruf.. Nah kalau justru marah2 dan gak terima gimana? J

Maka,, sebelum menikah…
Perbanyaklah ilmu2 tsaqofah Islam, latih diri untuk menjadi seorang istri, ibu, dan pengurus rumah tangga, dan teruslah melayakkan dan mempersiapkan diri dalam segala hal..
Agar pernikahan yang kelak akan menjadi penyempurna ibadah, akan mampu dijalani dengan damai, tentram dan selaras dengan tujuan..
Jangan sampai tujuan awal menikah untuk “beribadah” justru menjadi kacau karena kurangnya persiapan menikah, khususnya dari pihak perempuan..

Sedikit ceritaa, saya juga sebenarnya masih terus2an trial an error, dari mulai keteteran ngerjain kerjaan rumah, males2an, masakannya belum jelas, dan lain sebagainya..
Namun inilah proses.. Maka, marilah kita berdo’a, agar Allah perkenankan kita kelak untuk menjadi istri yang shalihah lagi menyenangkan hati suami, dan juga menjadi ibu yang mampu mendidik anak2nya dengan nilai2 yang berdasarkan akidah Islam..


Selamat berposes… ^_^

Rabu, 23 Desember 2015

Menjadi ibu itu tak mudah!

Hari ini adalah hari pertama sejak mamah dan papah pergi umroh..
Dan mereka akan pergi sampai sekitar 10 hari, dan aku sebagai satu-satunya anak perempuan di rumah tentu diberikan tanggung jawab untuk mengurus urusan rumah tangga.
Dari mulai mencuci, memasak, menguras kolam kamar mandi, menyetrika, dan lain sebagainya..
Hmm, membayangkan tanggung jawabnya saja sudah pusing bukan kepalang..
Bukan hanya karena pekerjaan’nya banyak saja, tapi karena memang aku tak terbiasa untuk mengurus rumah sepenuhnya..

Bayangkan saja, setiap hari berangkat pagi untuk kuliah, pulang kuliah biasanya sore hari bahkan terkadang malam hari, karena perjalanan yang cukup jauh maka sampai di rumah pun dalam keadaan lelah, letih, lunglai, de el el..
Jadi biasanya yaa lanjut shalat, mengerjakan tugas sebentar dan langsung tidur, pagi harinya pun kembali berangkat menuju kampus..
Walhasil meskipun jadi anak perempuan satu-satunya tetep aja jarang bantuin.. hiks

Sebenernya,, pengen banget yang namanya bisa ngurus urusan rumah tangga dengan habits, tapi tiap kali mau mengerjakan ssuatu, selalu terdahului oleh mamah..
Akhirnya jadi males dan kesannya gak peduli urusan rumah,, padahal bingung L

Siapa sih muslimah yang gak pengen mahir mengatur urusan rumah tangga?
Karena yakin, pasti itu akan menjadi kebanggaan tersendiri ketika sudah menikah..
Untuk taat dan membantu suami tentunya,,
Makanya sering banget berdo’a untuk bisa selalu bantuin mamah, dan selalu coba meskipun seringnya gagal dan keburu pergi kuliah..

Dan pada akhirnyaa, mungkin Allah mengabulkan do’aku dengan cara memberikanku “lahan” untuk menjadi ummu wa rabbatul bayt..
Yaa, 10 hari dalam penantian menunggu mamah dan papah ini, aku diberikan banyak amanah,
Dari mulai membereskan pekerjaan rumah, belanja, memasak, sampai mengatur uang untuk kakak dan adik. Hmmmh, luar biasa!
Itulah salah satu amanah menjadi seorang perempuan! Kelak ia akan menjadi ibu dan pengatur urusan rumah tangga. Menjadi pengatur urusan rumah tangga saja perlu latihan yang kuat, apalagi menjadi seorang ibu?!
Kelak ia akan mendidik anak sebagai amanah yang telah diberikan oleh Allah..
Tentu seorang perempuan harus belajar untuk bersabar dalam mendidik anak, memupuk dirinya dengan tsaqofah Islam, dan melayakkan dirinya untuk menjadi contoh bagi anak-anaknya.


Yaa Allah, mudahkan diri ini untuk menjadi muslimah yang senantiasa memperbaiki dan melayakkan dirinya untuk menjadi hamba yang taat, juga agar menjadi muslimah shalihat yang kelak layak menjadi istri dari hamba yang taat.. Aamiin

Minggu, 20 Desember 2015

Disiplin dalam Perubahan

Setiap manusia normal tentu menginginkan dirinya untuk bisa disiplin dan senantiasa melakukan perubahan menjadi lebih baik.
Apakah kamu pernah atau bahkan sering merasa bahwa kegiatanmu sehari-hari tidak beraturan? Atau kamu sering merasa capek dengan kegiatanmu, namun kegiatan-kegiatanmu tak kunjung selesai dan bahkan menjelma menjadi pekerjaan yang menumpuk?
Dan kamu sering berkomitmen untuk berubah, agar kehidupanmu menjadi lebih stabil, namun semuanya berakhir pada kata-kata atau rencana belaka? Akhirnyaa.. terus begitu saja tak ada rubahnya??

Jika ya, kasusmu sama persis dengan apa yang saya rasakan.. hehe,
Jujur saja, sebenarnya tulisan ini merupakan nasihat dan teguran untuk diri saya sendiri, berhubung saya baru mendapat pencerahan tentang perubahan dan kedisiplinan, maka saya ingin berbagi dan mudah-mudahan dengan menulis ini saya akan semakin memahami konsep dan aksi perubahan yang sebenarnya..
Karena sungguh saya merasa bosan dengan perubahan dalam diri saya yang tak kunjung bisa terlaksanakan, maka inilah waktunya untuk mencoba dan menyelesaikannya J

Kembali pada disiplin dalam perubahan.
Ketika kita merasa bahwa hidup kita tak beraturan, itu merupakan pertanda bagus. Bagus karena kita masih menyadari bahwa ada yang salah dalam diri kita dan harus diperbaiki.
Namun seringkali kita masih bingung untuk melakukan perubahan tersebut secara nyata.

Untuk itu, tentu harus dilakukan sebuah perubahan mendasar dalam diri kita sendiri, dan hal ini memerlukan pengorbanan yang besar dan sulit dengan komitmen untuk disiplin, sabar, dan istiqomah dalam perubahan yang sedang dilalui.
Oleh karena itu, tips wajib untuk melakukan perubahan dalam diri sendiri adalah sebagai berikut:

1.    Planning
Yaa, setiap perubahan yang besar akan memerlukan rencana yang besar pula. Dalam hal ini, cobalah untuk merancang sebuah planning yang akan kamu lalui dalam proses perubahan. Perencanaan ini meliputi tujuan yang hendak dicapai, hal-hal yang “harus” kamu lakukan, konsekuensi apa saja yang harus kamu jalani, dan apa saja yang kamu butuhkan agar perubahan ini berhasil.
Sebagai contoh, kamu ingin agar kehidupan dan kegiatanmu menjadi lebih teratur dan terarah, agar kamu bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat, serta selaras dengan tujuan atau cita-cita kamu kedepannya. Maka yang kamu butuhkan adalah manajemen waktu dan prioritas pekerjaan yang harus didahulukan. Boleh jadi selama ini kamu merasa lelah namun pekerjaan tak kunjung selesai adalah karena kamu tak pandai memanage waktu dan justru melakukan hal-hal yang tidak berguna hingga akhirnya pekerjaanmu yang sesungguhna terlalaikan.
Maka, cobalah membuat list pekerjaan apa saja yang harus kamu lakukan setiap harinya, buatlah list yang detail dan catat list tersebut di dinding kamarmu, layar handphonemu dan dimanapun agar kamu mudah untuk mengingatnya.

2.    Actioning
Sebuah rencana yang besar hanya akan menjadi lembaran dan bualan yang tak berarti tanpa adanya Action yang pasti dari dalam diri kita sendiri. Oleh karena itu, setelah kita membuat list yang detail berupa hal-hal yang harus kita lakukan, maka langkah selanjutnya adalah menjalani rencana tersebut dengan aksi yang nyata. Sesulit apapun itu, usahakanlah semaksimal mungkin untuk menyelesaikan list pekerjaan harianmu dengan sempurna!
Jika kamu telah melakukan satu pekerjaan, maka langsung kerjakanlah list pekerjaanmu yang selanjutnya, jangan biarkan dirimu terlena oleh waktu luang hingga akhirnya menghancurkan rencana yang telah kamu buat. Namun bagaimana jika kita merasa bahwa “sepertinya untuk hari ini aku tak bisa melakukan pekerjaan yang satu ini”??? Jika kamu berpikiran seperti itu, maka segeralah untuk membuang pikiran itu! Karena boleh jadi pikiran itu merupakan bisikan syaitan agar kamu tak mengerjakan pekerjaanmu hingga akhirnya akan terus menerus seperti itu. Coba bayangkan, jika setiap harinya kamu berpikiran seperti itu, maka kamu tak akan pernah sempat untuk melaksanakannya, hingga akhirnya rencanamu akan berubah menjadi bualan semata.
Maka, lakukanlah dengan semaksimal mungkin hal-hal yang sudah kamu catat! Namun, ketika pada hari itu banyak hal-hal “tak terduga” yang membuatmu melalaikan sebagian pekerjaanmu, itu masih bisa dimaklumi, tapi keesokan harinya kamu harus SEGERA melaksanakan hutang pekerjaanmu pada hari itu. Dan yang terpenting, teruslah berdo’a, berusaha, istiqomah, dan tawakkal kepada Allah agar kamu bisa senantiasa menjalani amanah-amanahmu dengan sebaik-baiknya.

3.    Controlling
Seringkali, rencana yang kita buat bisa kita lakukan dengan aksi yang nyata. Namun hanya bertahan beberapa minggu atau beberapa hari saja, dan akhirnya kembali berantakan semua. Hal ini terjadi karena tidak adanya pihak lain yang melakukan pengontrolan atas perubahan dirimu. Maka untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam dirimu, kamu akan selalu membutuhkan guru atau paling tidak pendamping yang akan senantiasa mengontrol dirimu dan sejauh mana kamu menjalani amanah-amanah yang telah kamu tulis.
Proses pengontrolan ini bisa dilakukan oleh kakak/adik, orang tua, teman, atau musyrif / musyrifahmu. Oleh karena itu, sebelum melakukan perubahan berikanlah list planning yang telah kamu buat sebelumnya, utarakan pada pengontrol bahwa kamu ingin melakukan perubahan dan kamu membutuhkan seseorang yang mengontrol, dan meminta tolonglah agar ia ridla untuk membantu mengontrol pekerjaanmu agar mampu berubah dengan maksimal.
Jika pengontrol mendapati dirimu tidak melakukan amanah, maka ia berhak untuk menasehatimu dan memberikan masukan-masukan atau sugesti positif untuk dirimu. Dan sebelumnya harus ada konsekuensi yang disepakati bila kamu tidak menjalani amanah dikarenakan hal yang tidak syar’i.

4.    Evaluating
Setelah kamu telah melakukan proses Planning, Actioning, dan Controlling maka langkah yang selanjutnya adalah proses Evaluasi. Mengapa hal ini kamu perlukan? Sebab, untuk menghasilkan perubahan yang maksimal, maka kamu harus senantiasa melakukan proses evaluasi agar kamu mengetahui sejauh mana kamu bisa mengamalkan apa yang kamu rencanakan, seefektif apa rencana yang kamu buat, dan apa saja hal-hal yang menjadi kendala dalam melakukan perubahan hingga akhirnya kamu memerlukan cara atau tambahan lain untuk memperbaikinya.
Evaluasi ini bisa berupa ”Muhasabah Yaumiyah” (Perhitungan setiap hari) yang kamu lakukan sebelum tidur, muhasabah yaumiyah ini untuk mengontrol, pada hari ini amanah apa saja yang sudah dijalani dan belum dijalani, jika belum maka silahkan bertanya pada diri sendiri, kenapa kita belum melaksanakannya? Atau kita juga bisa memperhitungkan, apakah hari ini lebih banyak kebaikan ataukah dosa yang kita perbuat? Sehingga evaluasi ini bisa memotivasi kita untuk lebih baik lagi keesokan harinya. Lalu, evaluasi ini pun bisa berupa sharing dengan pendamping / pengontrol kamu untuk membicarakan hal-hal yang perlu di evaluasi dalam masa perubahan ini.



Insyaa Allah, dengan dilandasi niat yang ikhlas karena Allah untuk melakukan perubahan agar mampu semakin meningkatkan ketakwaan pada Allah, mudah2an usaha kita diberi kemudahan, kelancaran, dan juga keistiqomahan agar selalu berada dalam koridor syara’.. Aamiin

Sabtu, 19 Desember 2015

Pengemban Dakwah atau Ikut-ikutan Dakwah?

Sebenarnya, ini adalah tulisan untuk menegur para pengemban dakwah dan khususnya diri saya sendiri. Sebuah renungan sekaligus tamparan bagi orang-orang yang melabeli dirinya sebagai seorang pengemban dakwah.

Dakwah merupakan aktivitas yang berat namun dikatakan mulia, sebab gunung, langit, dan lautan pun tak sanggup untuk mengemban amanah ini, hingga akhirnya diamanahkan kepada manusia.
Jelas, karena Allah tau bahwa manusia mampu mengembannya..
Maka, Allah telah mewajibkan dakwah untuk kita semua. Allah telah menyeru dalam firman-Nya:

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka lah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran [3] : 104)

Dalam ayat ini jelas Allah telah mewajibkan diantara manusia ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan dan melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar (dakwah).
Segolongan ummat ini tentu adalah orang-orang mukmin. Dan aktifitas dakwah ini merupakan kewajiban dengan derajat fardlu ‘ain atau wajib bagi setiap individu muslim.

Atas dasar inilah, seorang muslim selain diwajibkan untuk mengerjakan ibadah mahdlah yang wajib, juga diwajibkan berdakwah dalam rangka menyebarkan dan menerapkan diin (agama) yang mulia ini agar menjadi Rahmatan lil ‘alamiin.
Namun, pada kenyataannya sungguh sangat sedikit ummat muslim yang melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar, lantaran ummat Islam saat ini justru jauh dari nilai-nilai Islam.
Jangankan melakukan aktifitas dakwah, shalat wajib pun banyak yang masih meninggalkan, dan ironisnya ummat muslim tidak tau akan kewajiban mereka untuk melakukan aktifitas dakwah.

Oleh karena itu, saat ini muncullah berbagai jama’ah-jama’ah berlabel Islam yang menggusung nilai-nilai Islam dan masing-masing melakukan aktivitas dakwah untuk menyadarkan ummat Islam akan jatidirinya sebagai seorang muslim.
Para jama’ah yang ada sekarang pun mulai membentuk struktur organisasi dan pengkaderan untuk menyambung estafet dakwah bagi penerus-penerusnya..
Namun, karena begitu derasnya opini dan pengaruh sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) yang digusung oleh orang-orang kafir, semakin surut pula lah semangat-semangat mereka yang melabeli dirinya sebagai pengemban dakwah, dan hanya mereka yang memegang Islam sebagai akidah yang kokoh dalam menjalani kehidupan lah yang masih terus menyuarakan Islam untuk diterapkan, ditengah-tengah kecaman orang-orang yang mencela.

Bagi kalian ataupun saya yang sudah berkomitmen untuk menjalani aktifitas dakwah sebagai poros kehidupan, apakah status kita benar-benar seorang pengemban dakwah yang mengemban dakwahnya di setiap perjalanan kehidupannya ataukah hanya ikut-ikutan dakwah lantaran ada yang mengajak atau karena senang dengan jama’ah yang kita ikuti?

Hal pertama yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah “Kita berdakwah untuk Allah, agar aturan-aturan Allah berupa syariat Islam yang Kaaffah (menyeluruh) bisa diterapkan sebagai aturan yang mengatur individu, masyarakat, dan negara yang akhirnya mampu mewujudkan cita-cita kita agar Islam menjadi Rahmatan lil ‘alamiin untuk seluruh manusia di dunia ini.”
Yang artinya, kita berdakwah bukan karena diajak teman, ikut-ikutan, ataupun karena jama’ah yang kita ikuti. Melainkan hanya karena Allah semata, karena aktifitas ini merupakan aktifitas yang diwajibkan oleh Allah untuk dijalani oleh kita semua sebagai seorang muslim.

Jika masalah itu clear (selesai). Maka pertanyaan selanjutnya adalah…
“Apakah kita sudah benar-benar menjadikan aktifitas dakwah sebagai poros kehidupan?”
“Sudahkah kita melayakkan diri sebagai pengemban dakwah yang tujuannya adalah untuk menolong agama Allah?”
“Sudahkah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar perjuangan kita menyeru ummat ini mampu dan layak untuk diberikan pertolongan oleh Allah?”
“Apakah perjuangan kita untuk menerapkan Islam kaaffah sebagai aturan kehidupan akan diberikan kemenangan dan keridlaan oleh Allah?”

Jika kita mengharapkan pertolongan Allah datang, tentu kita harus menempuh jalan yang shahih agar aktifitas yang kita lakukan diridlai oleh Allah sehingga Allah memberikan pertolongannya kepada kita. Oleh karena itu, dalam melakukan aktifitas dakwah ada 2 hal yang perlu kita perhatikan:
1.    Apakah aktifitas jama’ah yang kita ikuti merupakan aktifitas dakwah yang shahih menuju penegakkan syariah Islam secara kaaffah yang dilakukan dengan mengikuti thariqoh dakwah Rasul ataukah tidak? Ataukah justru kita berlepas diri dari jama’ah dan berdakwah sendiri dengan dalih tak ingin bergolong-golongan?
2.    Apakah kita sebagai seorang muslim dan seorang yang telah berkomitmen menjadi pengemban dakwah sudah benar-benar melakukan aktifitas dakwah dan melayakkan diri sebagai penolong agama Allah?

Pertama, mengapa jama’ah merupakan hal penting yang perlu dibahas?
Hal ini dikarenakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencontohkan kepada kita untuk dakwah secara berjama’ah seperti yang dilakukan oleh para shahabat ketika turun ayat berkenaan dakwah secara terang-terangan hingga akhirnya mereka membentuk sebuah jama’ah dalam rangka menyebar luaskan diinul Islam. Terkait mereka yang tak ingin bergolongan dan memisahkan diri dari jama’ah, mereka sungguh telah melalaikan satu kewajiban yakni dakwah secara berjama’ah.

Setelah kita berkomitmen untuk dakwah secara berjama’ah, tentu ada hal yang perlu kita perhatikan. Yakni apakah jama’ah yang kita ikuti merupakan jama’ah yang shahih ataupun tidak?
Tentu saya pun akan memilih diantara jama’ah yang ada, manakah jama’ah yang shahih? Tentu hal ini dipilih bukan berdasarkan perasaan suka / tidak, apalagi dipilih karena keturunan.

Dalam memilih sebuah jama’ah, kita harus memperhatikan tujuan dan jalan yang ditempuh dalam melakukan aktifitas dakwah. Jika tujuannya adalah untuk menerapkan Syariah Islam secara Kaaffah agar mampu diterapkan secara menyeluruh ke seluruh dunia dalam rangka mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamiin, insyaa Allah syarat pertama telah terpenuhi.
Yang kedua, Bagaimana jalan yang ditempuh oleh jama’ah tersebut? Apakah sesuai dengan thariqah dakwah Rasul ataukah tidak?
Didalam Sirah Nabawiyah telah diriwayatkan bahwa Rasul melakukan aktifitas dakwah dalam 3 tahap: (1) Melakukan pembinaan kepada para shahabat dalam rangka menumbuhkan keimanan yang kokoh didasarkan akidah yang benar, yakni yang lahir dari pemikiran dan diperkuat dengan perasaan. (2) Membentuk jama’ah dakwah dalam rangka menyebarluaskan Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan manusia. (3) Menerapkan Islam Kaaffah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan dengan mendirikan Negara Islam di Madinah yang dipimpin oleh Rasul sendiri sebagai seorang Khalifah.

Thariqah dakwah ini telah terbukti berhasil dalam menyebarkan Islam ke 2/3 dunia. Namun sayang karena begitu gencarnya orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam, akhirnya ummat Islam pun tersekat-sekat dengan Nasionalisme yang akhirnya membuat ummat Islam menjadi lemah dan tidak memiliki pelindung.
Maka, pilihlah jama’ah yang shahih yang mampu mengarahkanmu untuk melakukan aktifitas yang shahih sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rasul.

Kedua, yang harus kita pahami dan sadari. Kita adalah orang-orang yang telah Allah pilih dan telah Allah beri kesempatan untuk menjalani aktifitas mulia ini, yakni Dakwah.
Kita mengetahui bahwa dakwah dengan komitmen untuk selalu melakukan aktifitas amar ma’ruf nahyi munkar untuk menerapkan Islam kaaffah merupakan aktifitas yang sulit, penuh pengorbanan, dan banyaknya hambatan yang dilalui.
Yaa, begitulah dakwah di akhir jaman, begitu banyak godaan yang menimpa untuk sekedar futur atau bahkan keluar dari jama’ah hingga melanggar banyak hukum syara’.
Oleh karena itu, kenalilah diri kita masing2. Apakah kita sudah benar-benar layak menjadi seorang pengemban dakwah ataukah belum?

Dalam kitab At-Takattul yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, beliau mengatakan bahwa pengemban dakwah merupakan uyunul ummah (Mutiara Ummat). Yaa, pengemban dakwah diibaratkan sebagai mutiara yang bersinar di tengah-tengah lumpur.
Bagaimana tidak? Ketika kebanyakan orang melakukan berbagai aktifitas yang haram, tidak jelas, dan menghancurkan diri sendiri serta masyarakat, para pengemban dakwah justru menghindari semua itu, dan mereka berusaha melawan arus untuk menyadarkan ummat yang berjalan menuju kehancuran bagai air yang mengalir jatuh ke air terjun.
Selain itu, para pengemban dakwah senantiasa melakukan aktifitas mendekatkan diri kepada Allah untuk mencari keridlaan-Nya dan selalu meminta agar ia diberikan pertolongan untuk memenangkan agama-Nya..

Lagi-lagi, pertanyaannya adalah “Apakah kita sudah layak menjadi penolong agama-Nya?”

Coba kita cek pada diri kita sendiri..
Disaat kesibukan dunia seperti pekerjaan rumah, kuliah, kerja, dan aktifitas lainnya. Apakah kita tetap menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan? Apakah di sela-sela perkuliahan atau pekerjaan kita menyeru orang-orang disekeliling kita untuk sadar akan hakikat kehidupan mereka di dunia? Apakah ketika disela-sela perjalanan kehidupan kita menemukan banyak kemaksiatan lantas kita melakukan aktifitas mencegah kemunkaran? Sudahkah?

Lalu, disaat orang lain tertidur pulas di sepertiga malam, apakah kita berusaha untuk senantiasa bangun dan mendekatkan diri serta berdo’a kepada-Nya agar Ia meridlai segala aktifitas kita untuk menolong agama-Nya? Dan apakah disaat orang-orang bersegera untuk pergi dari masjid lantaran begitu banyak kesibukan, kita masih menyempatkan diri untuk shalat sunnah beberapa rakaat? Sudahkah?

Kemudian, apakah disaat orang lain bangun setelah shubuh namun kita bangun sebelum shubuh untuk melaksanakan sahur dalam rangka menjalani puasa sunnah?? Seberapa seringkah kita mendekatkan diri kepada-Nya? Seberapa seringkah kita berdo’a pada-Nya? Seberapa istiqomahkah kita dalam menjalani ibadah-ibadah wajib dan sunnah dalam rangka menumbuhkan kesabaran dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala?? Sudahkah? Seberapa banyak? Dan seistiqomah apa kita???

Begitu banyak pertanyaan besar yang mampu menampar para pengemban dakwah yang masih lalai seperti saya ini… Begitu banyak hal-hal yang terlupakan seiring banyaknya aktifitas mubah yang menyibukkan kita hingga akhirnya lupa akan jatidiri kita sebagai seorang pengemban dakwah..

Maka, nasihatku untuk diriku sendiri dan saudara-saudaraku kaum muslimin khususnya para pengemban dakwah..
Sungguh aktifitas dakwah merupakan aktifitas yang mulia dan merupakan aktifitas yang diemban oleh para Nabi dan Rasul serta para Syuhada, maka bergembiralah!
Namun jangan sampai kita merasa bangga hingga akhirnya melupakan tugas kita yang sebenarnya..

Pesanku,, laksanakanlah ibadah-ibadah wajib dengan penuh kekhusyu’an, berusahalah untuk senantiasa mendawamkan diri atas ibadah-ibadah sunnah, kaya-kanlah diri dengan tsaqofah Islam untuk mengokohkanmu dalam ibadah dan dakwah, dekatkanlah diri kepada Allah dengan senantiasa berdo’a kepada-Nya, karena do’a adalah senjata kaum muslimin.. Tingkatkanlah nafsiyah, dan jadikanlah setiap aktifitas kita memiliki ruh idrak sillah billah (kesadaran hubungan dengan Allah) agar setiap aktifitas kita bernilai ibadah karena-Nya. Jagalah diri dari perbuatan maksiat dan istiqomahlah dalam ketakwaan..

Mudah-mudahan Allah mudahkan diri ini untuk mengerjakan atas setiap seruan yang tertulis dan terucap, semoga Allah muliakan kita dengan diinul Islam ini. Aamiin,

Saudaramu,

Wasfah Khofifah

Minggu, 27 September 2015

Pendidikan Islam vs Pendidikan Kapitalis

Sepertinya ini adalah pembahasan yang sangat menarik bagi seseorang yang bergulat dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam.. ^_^
Bagaimana tidak? Kedua versi pendidikan ini sangat bertolak belakang dari segi konsep maupun proses dan outputnya.. dan bertolak belakangnya kedua pendidikan ini sangat berpengaruh terhadap bangkit tidaknya sebuah generasi, namun seringkali para pendidik tidak menyadarinya, atau bahkan membiarkan’nya..

Sebelum membahas lebih lanjut, saya punya sedikit cerita tentang diri saya sendiri..

Dulu ketika jaman-nya SD (Sekolah Dasar), saya itu kepengeeen banget cepet-cepet masuk SMP, karena pikir saya SMP itu akan lebih menarik dari SD, namun ketika menjelang kelas 2 SMP, rasanya begitu tak sabar ingin memakai rok abu-abu, sepertinya dunia SMA akan lebih menyenangkan lagi..
Tapiiii, setelah masuk SMA, bukan kepalang begitu kebeletnya pengen cepet-cepet lulus,,
Dan setelah lulus,, awalnya merasa puas dan begitu bersemangat ketika memasuki dunia kuliah.. Tapi lama kelamaaaan.. Wleee, rasanya pengen cepet-cepet lulus lagiii, -_- hehe,

Sebenarnya ini cerita yang biasa, bahkan mungkin saja dialami oleh kebanyakan anak di Indonesia? Bukan hal yang mustahil kan?
Pertanyaan’nya adalah… kenapa saya atau bahkan anak2 lain begitu ‘selalu tidak sabar’ untuk melalui setiap jenjang pendidikan yang dilewati? Sekali lagi, KENAPA?
Hayooo, ada yang tau gak?

Tadinya pun saya sempat bingung yang intinya ‘Sebenernya apa yang menjadi tujuan saya?’ ketika di SD ingin cepat2 SMP, lalu SMA, kuliah dan seterusnya.. Seolah-olah ketika menjalani pendidikan yang ada dipikiran saya hanyalah ‘KAPAN LULUS?’ tanpa memikirkan apa yang ada dalam prosesnya..

Hmm, pertanyaan ini pun sangat menarik perhatian saya, karena hal itu masih berputar-putar di otak saya, hingga akhirnya saya menemukan suatu fakta luar biasa yang tak pernah saya duga.
Yaa, yang saya temukan adalah, saat ini… saya dan semua peserta didik lainnya sedang berada dalam sistem ‘PENDIDIKAN KAPITALIS’..
What is the meaning of Capitalism Education?
Yaa artinya pendidikan kapitalis.. -_-
Iyaa maksudnya apa itu Kapitalis?
Apa anda baru saja mendengar kata itu? Kalau iya, berarti pendidikan anda selama ini diragukan, hehe..

Intinyaa, Kapitalis itu berasal dari kata Kapital atau Capital yang artinya MODAL.
Apa hubungan’nya pendidikan sama modal? Sabar sabaaaar..
Jadi, kapitalis adalah para pemilik modal, yang dimana pendidikan yang ada dalam sistem kapitalis dijadikan sebagai pendidikan yang dibuat sedemikian rupa untuk menguntungkan para pemilik modal alias pengusaha..
Pendidikan Kapitalis ini berasal dari Sistem Kapitalisme, yaitu sistem yang menjadikan para pemilik modal / pengusaha menjadi pembuat hukum di suatu negara..
Singkatnya begitu, dan intinyaaa.. ketika suatu Pendidikan di KAPITALISASI, maka seluruh proses yang ada dalam pendidikan itu hanya dibuat dan dirancang untuk MENGUNTUNGKAN PEMILIK MODAL.
Waduh, serem juga yah… Terus apa hubungan’nya dengan cerita saya yang tadi?

Jadi begini, Pendidikan itu pada hakikatnya dibuat untuk mencerdaskan sebuah generasi, agar suatu generasi itu menjadi generasi yang berkualitas dan menjadi generasi yang maju serta cemerlang.
Tapi, ketika pendidikan tersebut hanya dijadikan sebagai ‘alat’ untuk mencari keuntungan (oleh para pemilik modal) maka seluruh proses yang ada di dalamnya pun bertujuan untuk ‘mencari keuntungan’ tanpa memikirkan ‘hakikat’ pendidikan yang sebenarnya.
Akhirnya, apa yang terjadi?

Anak TK sudah dipaksa belajar baca tulis, karena persyaratan masuk SD adalah sudah bisa baca tulis, padahal ketika usia TK anak belum berkeinginan untuk membaca dan menulis, akhirnya anak pun banyak yang malas belajar karena merasa terpaksa, kalaupun sudah bisa baca tulis, maka ketika masuk SD pun ia tidak akan merasa tertarik untuk membaca buku dan menulis cerita, karena dulu ia belajar karena ‘dipaksa’, bukan karena keinginan’nya.. berbeda dengan anak kelas 2 atau kelas 3 yang sudah memiliki keinginan membaca dan menulis lantaran merasa ‘butuh’ dan senang ketika dibacakan cerita, maka ketika sudah bisa pun ia akan senang untuk membaca dan menulis.

Belum lagi di jenjang 1-6 SD anak sudah diajarkan rumus matematika yang rumit, ataupun pelajaran PPKN yang membosankan? Yang mereka belum merasa butuh akan semua itu.. akhirnya anak pun merasa tak bersemangat dalam belajar, aktifitas sekolah pun hanya dijadikan sebagai rutinitas belaka.. Asal sekolah, mengerjakan tugas, belajar seadanya, sudah deh..

Ditambah lagi ketika SMP yang seharusnya anak sedang masa-masanya mencari jatidiri, sudah banyak disibukkan dengan PR yang rumit, lagi-lagi matematika, ditambah dengan fisika, kimia dan biologi. Kalaupun ada yang suka dengan eksak, tetap saja dibuat bosan dengan sosiologi, geografi dan ekonomi? Ditambah bahasa indonesia yang materi’nya itu2 saja?
Akhirnya aktifitas sekolah menjadi hal yang membosankan, dan WeekEnd menjadi kerinduan sepanjang pekan.. hehe,
Sudah membosankan, udah gitu dituntut untuk selalu ngerjain tugas pula, padahal sekolah aja males, apalagi ngerjain tugas? Kalau gak ngerjain tugas diancam gak dapet nilai, disetrap dan lain sebagainya… Akhirnya contekan menjadi pilihan, ujian pun jadi ajang untuk lirik jawaban teman.

Dilajut lagi SMA, di kelas X (sepuluh) sudah dipadatkan dengan semua mata pelajaran, kalau yang SMK sih agak lumayan seneng karena pelajaran eksaknya sedikit, tapi tetap saja bosan.. Yang SMA disibukkan untuk mendapatkan NEM yang besar, yang SMK disibukkan dengan praktek dan iming2 kerja dengan mata berbinar, ujungnya cari cara apapun untuk bisa lulus dan dapet nilai gede alias besar. Itu yang punya target, kalau yang gak punya target lantaran males sekolah? Motto’nya ‘YANG PENTING LULUS’
Ckckck.. mengenaskan yah?

Apalagi yang KULIAH bro, baru masuk sih masih merasa seneng dan serasa bebas..
Ditambah baju’nya gak seragam lagi, lumayan lah.. kayaknya kuliah itu gak bosen, dan mungkin kelihatan’nya lebih gaul dari yang gak kuliah..
Pas masuk kuliah beberapa bulaaan…

T_T
Kenapa bro?

BANYAK TUGAS BRO T_T
Hehee, sama aja ya ternyata?
Yaa, kuliah jaman sekarang emang gitu bro, bayaran’nya mahal, kuliahnya banyak tugas, presentasi, makalah, essay, dan lain sebagainya.
Apalagi yang ngambil S1, teori semua ciiin… hehe,

Hmmm, ternyata gitu yah pendidikan jaman sekarang.
BUKAN! Lebih tepatnya bukan pendidikan jaman sekarang, tapi PENDIDIKAN KAPITALIS yang diterapkan di jaman sekarang.
Why?
Pendidikan didalam kapitalis itu memang dirancang seperti itu kawan..
SD, SMP, SMA dan KULIAH itu sebenarnya untuk apa sih? Untuk belajar? Untuk cari ilmu? Untuk jadi Cerdas?

BOHONG! Kalau boleh saya jawab, semua itu Cuma biar dapet IJAZAH aja, ya kan?
Dan segala sesuatu itu dilakukan hanya untuk mendapatkan ijazah.
Dan mendapat IJAZAH itu untuk apa? Untuk KERJA. Betul?
Akhirnyaa.. Pendidikan pun hanya difokuskan untuk mendapat nilai yang besar tanpa memperdulikan halal haram, yang penting nilai gede, IPK gede, dan lain sebagainya. Yang ujung-ujungnya nilai gede itu sebagai orientasi keberhasilan dan modal utama untuk kerja. Kalaupun nggak untuk kerja, paling banter untuk banggain orang tua aja karena nilainya gede. Yang ada di pikirannya hanyalah nilai, nilai dan nilai.
Heran ye, padahal eksistentinye ilmu itu bukan untuk dapet nilai yang gede, Tapi buat dapet ilmu biar bisa diterapkan ye? Juga buat cerdaskan diri kite.. (duh jadi kayak orang betawi)
Teruus nih yaa, selain nilai.. Apapun dibela-belain, bayaran kuliah mahal tetep di bela-belain (hiks), belum lagi harus print makalah, beli buku, segala macem. Semuanya di bela-belain.. Cuma demi bisa jadi The Best Student, The Best Grade, The Best Skill, and The BestO ! (lho jadi chicken dong)
Padahal nih bro, biaya hidup aja udeh suseh. Ditambah pendidikan yang mahal dan gak ada yang nanggung semua biaya itu selain ortu atau diri kita sendiri. Kesejahteraan pun jauh dari genggaman.
Yang akhirnyaaa.. Pikiran setelah sekolah atau kuliah itu BUKAN tentang bagaimana mempertanggung jawabkan dan menerapkan ilmu yang telah di dapatkan, tapi tentang bagaimana cari kerja yang mapan untuk ganti semua modal di depan.
So,, Idealisme ilmu pun tinggallah buih-buih beterbangan…. Ngenes.

Coba kita pikirkan, ketika jaman serba sulit, ketika pendidikan serba mahal (hiks lagi), dan ketika belajar itu sudah ter-mindset menjadi hal yang membosankan,
Tapi di sisi lain.. untuk bekerja, kita TIDAK PERLU memakai IJAZAH? Asal punya kemampuan, maka siapapun bisa bekerja.
Jika seperti itu.. MUNGKIN TAK ADA YANG MAU SEKOLAH ataupun KULIAH. Haha,
Ya iyalah, kalau gak perlu ijazah tapi bisa kerja dengan posisi mana aja, siapa yang mau sekolah dengan pendidikan yang membosankan tadi?
Tapi sayangnya di sistem kapitalis semuanya perlu sertifikasi bro, kalau mau dapet kerja yang bagus, yaa harus punya IJAZAH.
Hehee, hayooo ketauan yang sekolahnya Cuma pengen dapet ijazah untuk cari kerja ajaa :D

Ehm, kembali pada KAPITALIS.
Yaa, itulah sistem kapitalis, Pendidikan hanya difokuskan untuk mencari kerja, dan kerja difokuskan untuk mencari uang, karena uang adalah hal yang sangat penting untuk memenuhi kehidupan sekarang.. Ditambah, pendidikan pun dibuat lama dan begitu banyak jenjang, untuk apa? Sekali lagi untuk menguntungkan kapitalis. Karena pendidikan itu mahal, dan semakin lama pendidikan, maka semakin lama para kapitalis menikmati hasilnya..
Belum lagi sistem kapitalis ini memang sengaja dirancang oleh orang-orang kafir (baca: kaum barat) untuk menumpulkan kecerdasan generasi muslim. Bagaimana tidak? Pendidikan yang harusnya dibuat menyenangkan dalam rangka mencerdaskan ummat, kini dibuat lama dan membosankan, serta hanya disetting untuk mendapatkan pekerjaan. Maka orientasi generasi muda saat ini pun hanya terfokus pada Nilai, Kelulusan dan mendapat pekerjaan. Esensi untuk “Mencari Ilmu” dan “Membuat Cerdas” pun hilang.
Akhirnya yang diuntungkan hanyalah para kapitalis. Selain itu, di dunia kerja pun, lagi-lagi kapitalis yang diuntungkan. Semakin banyak yang bekerja, semakin suburlah industri mereka. Semakin laku pula produk mereka, dan semakin banyak keuntungan yang mereka dapatkan.

Coba pikirkan lagi, dalam sistem kapitalis, kau hanya sekolah untuk mendapat ijazah, ijazahmu hanya untuk mendapat pekerjaan, dan pekerjaanmu hanya untuk mencari uang, dan uang untuk memenuhi kebutuhan..
Sedangkan di sisi lain, kau sekolah dan bayar mahal, semuanya dinikmati para pemilik modal, kau mendapat pekerjaan pun, mereka yang mendapat keuntungan. Karena mereka mendapat hasil, sedang engkau menjadi buruh, bahkan ketika engkau mendapat uang dan memenuhi kebutuhan, produk yang kau beli pun adalah produk mereka, maka siapa lagi yang diuntungkan? Mereka. Para pemilik modal. J

Wahh,, luar biasa panjang cerita saya, tapi ini belum selesai kawan..
Setelah membahas begitu kejamnya pendidikan kapitalis, lalu bagaimana dengan pendidikan Islam? Apakah berbeda? Apakah lebih baik?
Yaa, tentu saja. Begini ceritanyaaa..

Islam adalah agama yang sempurna, didalamnya terdapat seluruh aturan hidup manusia dalam berbagai aspek kehidupan.. Dimulai dari ibadah, pergaulan, ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, semuanya diatur dalam Islam. Benar bukan?
Maka Islam pun memiliki aturan yang cemerlang.

Mari kita tengok masa kejayaan Islam beberapa abad yang lalu..
Ummat Islam memiliki sebuah negara yang disebut dengan Kekhilafahan, dan kaum muslim dipimpin oleh seorang Khalifah,, dari mulai Rasulullah, para shahabat dan seterusnya, selalu ada Khalifah yang menjadi pemimpinnya..
Semua permasalahan kaum muslim pun diatur dengan Islam, yang akhirnya terciptalah kedamaian dan kesejahteraan. Hingga terlahirlah para ilmuan-ilmuan muslim seperti Ibnu Sina ilmuan kedokteran yang menemukan alat-alat bedah, Ibn Khaldun sebagai bapak sosiologi, Al-Khawarismi sebagai ahli matematika, Imam Syafi’I yang menjadi ahli Fiqh dan mendirikan sebuah madzhab dan lain sebagainya..

Pertanyaan’nya, bagaimana bisa ilmuan-ilmuan hebat itu berasal dari ummat Islam?
Karena pada saat itu pendidikan Islam diterapkan.. Pada saat itu, generasi muslim di didik oleh para ibu yang luar biasa, pada saat kecil mereka sudah diperdengarkan dengan ayat-ayat al-qur’an hingga hari-hari mereka diliputi dengan ketenangan, pada usia dini mereka ditanamkan dengan tsaqofah-tsaqofah islam hingga akhirnya terbentuklah keimanan yang kuat dan jiwa yang dekat dengan Allah..
Beranjak remaja, mereka diarahkan untuk mencari jatidirinya, potensi yang telah terlihat pun dilatih dan dikembangkan, kedekatan mereka dengan Allah-lah yang membuat  mereka tekun dalam menuntut ilmu, pendidikan pun benar-benar di setting untuk mencerdaskan generasi dalam rangka melahirkan penemuan-penemuan yang berguna untuk manusia..
Tak ada pendidikan yang membosankan, karena semuanya didasari dengan keikhlasan dan meraih ridla Allah sebagai tujuan. Orientasinya pun bukan tentang seberapa besar nilai yang akan didapatkan, tapi seberapa banyak ilmu yang diterima, diamalkan, diajarkan dan dipertanggung jawabkan..

Lalu, bagaimana dengan kebutuhan hidup mereka? Apakah mereka tidak membutuhkan pekerjaan?

Kebutuhan hidup kaum muslim pada saat itu telah dijamin oleh negara, zakat diwajibkan, riba diharamkan. Fakir, miskin hingga 8 asnaf lainnya mendapatkan hak-nya dengan ahsan. Pendidikan diwajibkan dan di-GRATIS-kan, kesehatan dijamin sepenuhnya tanpa harus berbayar sedikitpun, karena menjamin kehidupan rakyat adalah kewajiban. Pekerjaan pun bukan menjadi tuntutan kebutuhan, melainkan untuk beribadah dalam rangka menafkahi keluarga. Tak ada lagi pendidikan yang hanya menjadikan nilai dan pekerjaan menjadi tujuan.
Akhirnya terciptalah sebuah keadaan yang kondusif untuk menuntut ilmu sedalam-dalamnya untuk kemaslahatan manusia, ummat muslim pun tidak disibukkan untuk mencari ijazah, pekerjaan dan orientasi dunia lainnya.
Melainkan disibukkan untuk mendekatkan diri pada Allah dan menghasilkan penemuan gemilang untuk ummat manusia terlebih ummat Islam. Bahkan, Ketika itu.. Sebuah karya berupa buku pun ditimbang seberat emas sebagai penghargaan bagi penulisnya.. Guru pun dimuliakan dan diagungkan, yang jelas imbalan’nya pun tidak diragukan..

Wahh.. Sangat berbeda dengan Pendidikan Kapitalis bukan?

Pendidikan Kapitalis orientasinya hanyalah materi dan dunia.. Namun di dalam Pendidikan Islam, orientasinya adalah ridla Allah dan Kegemilangan Peradaban.
Tapii.. Sayang sekali kawan, pendidikan Islam sudah tak lagi diterapkan. Kalaupun diterapkan, hanya bersifat parsial (sebagian) di beberapa lembaga saja. Itu pun tidak didukung dengan sistem yang ada sekarang..
Bisa sih kita menerapkan pendidikan Islam, namun Kebutuhan hidup pun masih menjadi pertimbangan.. Semua itu dikarenakan saat ini kita masih berada dalam SISTEM KAPITALIS bukan Sistem Islam. Dan Kaum muslimin pun sudah tak memiliki perlindungan dari seorang Khalifah, bahkan telah terpecah belah menjadi beberapa negara bagian.. Maka tak heran jika tak terlihat lagi generasi cemerlang yang pernah lahir di abad kejayaan..
Semua itu KARENA ISLAM TIDAK DITERAPKAN.

Sebagai seorang muslim yang memiliki keimanan, tentu kita sangat merindukan Sistem Islam yang mampu menerapkan pendidikan Islam untuk melahirkan generasi yang gemilang bukan?
Dan semua itu hanya bisa terwujud ketika Islam kembali diterapkan, ketika kaum muslimin bersatu padu dalam sebuah Negara Islam, yakni Khilafah Rasyidah ala Manhaj Kenabian..
Lalu apa tugas kita sebagai generasi Islam terlebih yang bergulat dalam bidang pendidikan?
Tentu saja memperjuangkan kembali Islam untuk diterapkan, agar terlahir kembali Peradaban Islam yang melahirkan Generasi yang Cemerlang..


Ayoo berjuang! ^_^

Selasa, 02 Juni 2015

Menunggu itu Indah ^_^

Sebagian orang atau bahkan hampir semua orang menganggap bahwa menunggu itu adalah hal yang paling menyebalkan, membosankan dan paling tidak diinginkan.
Namun, bagaimana bisa saya menulis judul bahwa menunggu itu indah?

Terinspirasi dari seseorang yang sedang saya tunggu,, ketika ditelfon ia malah tertawa sambil berkata…  “menunggu itu indah”.
Yaa.. awalnya saya hanya mengiyakan saja. Tapi akhirnya menjadi sebuah inspirasi untuk tulisan saya kali ini..

Kembali pada kata “menunggu”
Siapa yang senang dengan hal yang satu ini?
Melihat jam, duduk-duduk dan sesekali berdiri, perasaan tak karuan (apalagi kalo lagi buru-buru), kesal, gereget, atau apalah namanya.
Begitulah gejala-gejala yang dialami ketika menunggu, entah menunggu sesorang, kejadian atau hal apapun.

Tapii,, tahukah kamu??
“Menunggu” bukanlah hal yang menyebalkan ataupun membosankan, tapi itu adalah hal yang menarik. Why?

1.    Jika kamu menunggu seseorang yang sudah ‘janjian’ denganmu, lalu ia tidak tepat waktu.. Jelas kamu akan menunggu. Beberapa menit oke, 15 menit lewat mulai bosan, setengah jam kesel, dan menit-menit selanjutnya sudah tersiapkan ucapan-ucapan atau ekspresi yang dilontarkan pada orang yang ditunggu, hehee.. Iya gak?
Kalo iyaa.. cobalah tenang, sejujurnya gejala-gejala itu tak mesti harus selalu kamu rasakan, bagaimana bisa?
Yaa.. jika kamu selalu merasakan hal itu ketika menunggu seseorang, berarti kamu orang yang tepat waktu, tak senang menunggu dan yang terpenting adalah kamu tak pernah mempersiapkan diri untuk menunggu.
Wait, untuk apa mempersiapkan diri?

Sedikit menorehkan inspirasi dari isi kepala saya, jika kamu akan ‘janjian’ dengan seseorang, cobalah mempersiapkan diri. Ketika ‘janjian’, coba untuk berkomitmen tidak telat, namun jika kenyataan’nya akan telat, pahamilah bahwa manusia itu tempat kesalahan J cobalah untuk berhusnudzan kepada orang tersebut, dan lapangkanlah hati tuk menerimanya..

Selain itu, kamu pun bisa mempersiapkan diri ketika berada ditempat ‘janjian’ tersebut. Pasang hati yang sabar, pasang hati dan wajah yang tenang, dan persiapkan hal-hal yang bisa kamu lakukan ditempat menunggu. J Jika kamu suka membaca buku, maka bawalah buku yang sedang kamu baca, kamu juga bisa menunggu sambil tilawah, belajar ataupun menghafal al-qur’an. Tapi tentu hal ini perlu dibiasakan.
Daripada kamu harus gerak-gerik gak karuan dan menyimpan kesal? Akan lebih efektif kalau dipakai hal-hal yang bermanfaat. Menunggu itu indah bukan? ^_^

2.    Jika kamu sedang buru-buru, lalu bis yang kamu tunggu tak kunjung datang, atau ketika naik kendaraan pribadi jalanan begitu macet, kamu pasti akan panik, kesal, melihat-lihat jam, hati penuh gemuruh dan rasanya ingin melesat sampai tujuan. Hehe (Nyindir diri sendiri)
Yapp,, berbagi inspirasi sekaligus menegur diri ^_^

Terburu-buru… hmm, apa sih yang membuatmu terburu-buru? Jam masuk kuliah? Janjian dengan teman? Atau jangan-jangan jadwal kajian? Ckckck
Itu masih agak maklum kalau terburu-buru, tapi kalau terburu-buru karena nemuin pacar? Ngantre tiket konser? Wiihh.. kalo itu pembahasan’nya beda lagi, gak usah ditolongin!

Kalo boleh mengingatkan, sudahkah kamu memperkirakan jadwal tersebut dengan jadwal keberangkatan? Jika sudah, berarti kamu harus lebih memperhitungkan’nya lagi, jika belum.. Berarti harus dipersiapkan yaa guys ;)
Kalau kuliah, janjian atau kajian jam 7, maka perkirakan waktu perjalanan yang akan ditempuh, jangan perkiraan pas jalanan lancar aja ya! Tapi perkiraan kalau macet juga ;)
Mungkin kamu bisa berangkat jam 6, atau lebih pagi lagi.. alhasil bisa datang lebih awal dari jadwal, yakan?
Kalau lebih awal, tentu kamu bisa melakukan beberapa hal bermanfaat seperti pada poin 1, tapii… Kalau kejadian’nya kamu sudah dijalan dan ternyata bisnya lama atau jalanan macet, maka cobalah tips berikut..

Ketika berada dalam keadaan demikian, cobalah tarik nafas dan berkata pada diri “tenanglah… sabar, kamu akan segera sampai” karena sejatinya, kesal ataupun tidak, kamu akan sampai ditempat tujuan pada waktu yang sama, bedanya… ketika kamu sabar, kamu akan tetap stabil dan berpikir jernih untuk mengoreksi diri, bahwa ‘saya harus datang lebih awal kedepannya’. Jika sambil marah-marah dan protes? Tak ada kebaikan untukmu J
Menunggu itu indah bukan? ^_^

3.    Menunggu bagian terakhir, adalah menunggu yang paling indah... apakah ituu??

-Menunggu Jodoh- hehe
Eits,, jangan dulu bilang ‘gubrak’!
Hal ini adalah hal yang paling penting untuk kamu-kamu yang belum punya pasangan hidup.
Why? ‘Jodoh itu kan gak perlu ditunggu, nanti juga dateng sendiri!’
Hehee.. you are right! But not very exact… ^_^

Sebelum pembahasan “menunggu itu indah” dalam poin ke-3 ini.. mari samakan persepsi :)
Jodoh itu akan datang pada waktunya, namun bukan tak perduli dengan kedatangannya.
Jodoh itu seringkali cerminan diri, karena Allah sesuaikan dengan sikap yang terpatri
Jodoh itu tak perlu dicari, namun direncanakan sejak dini

Baik… berkaitan dengan jodoh, sudahkah persepsi kita sama? (Anggap saja sudah sama)
Jika kita sudah mengetahui bahwa jodoh merupakan calon pasangan ‘hidup’ yang akan mendampingi dan selalu bersama kita..
Maka perlu ada persiapan yang sangat detail dalam proses ‘menunggu’nya…

Siapapun kamu, yang masih muda ataupun yang sudah beranjak dewasa.. jika kamu belum menikah.. maka kamu sedang dalam proses ‘menunggu’..
Kamu tak perlu khawatir, kapan ia akan datang dan bagaimana rupa dan sikapnya, yang perlu kamu pikirkan adalah ‘bagaimana saya menyambutnya’?
Sesungguhnya inilah proses ‘menunggu’ yang paling lama, karena perhitungannya bukan dengan jam yang selalu dilihat mata ataupun beberapa jam yang tertunda..
Tapi tentang waktu yang tak pernah terpikirkan oleh kita.
Maka proses menunggunya pun berbeda dari poin satu dan dua..

Jika kedua poin diatas menganjurkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan melatih diri untuk bersabar.. maka di poin ke-3 ini lebih dari itu.
‘Menunggu’ jodoh itu sederhana…
Selagi menunggu,, kamu tak perlu cemas..
Cukup meminta dalam do’a, tuk diberikan yang terbaik oleh yang Maha Kuasa
Dan menanti datangnya dengan segudang persiapan yang luar biasa..
Karena apa? Kamu akan menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anaknya, ataupun menjadi suami dan pencari nafkah bagi keluarga..
Hal luar biasa yang perlu ditempa dengan usaha yang lebih dari sederhana..

“Menunggu itu indah”
Karena esensi menunggu bukanlah ‘capaian’ dari apa yang kita tunggu, namun bagaimana cara dan sikap kita dalam menunggu.
Bahkan Allah pun tak pernah menilai hasil, melainkan proses..
Karena hasil takkan menghianati proses :)

Jadikanlah ‘menunggu’ menjadi hal yang sederhana bahkan indah dirasa..
Ketika orang lain berkata ‘menunggu’ itu membuat bosan karenanya, maka jadilah insan yang tenang dan sabar dibuatnya, bahkan merasa indah tuk nantikan waktunya tiba..


Menunggu itu indah ^_^

Sabtu, 18 April 2015

Kemuliaan Islam ^_^


Islam..
Hmm, kini kata itu menjadi kata yang sangat menakjubkan.
Berbeda saat sebelum setahun yang lalu.. kata yang sangat biasa.
Kini menjadi kata yang begitu istimewa..

Mengapa??

Ketika aku lahir hingga aku berumur 16 tahun.. dunia terasa sempit bagiku,
Yang kulalui hanyalah monoton dunia yang tak ada habisnya,
Menghabisi waktu dengan apapun yang tersisa.
Lihat sajalah anak muda sekarang.. apa pekerjaannya?
Bermain, sekolah, bersenang-senang, malas-malasan. Tak jelas judulnya?
Dan kupikir itulah untuk apa ku hidup di dunia..
Merasa senang dan seolah bebas dari kungkungan keniscayaan.

Kemudian aku dihadapkan dengan dunia yang berbeda..
Wahh.. aku masuk kuliah!
Tapii.. kenapa ada yang berbeda dari paradigma ku tentang pendidikan setelah SMA?
Tak kusangka.. yang kudapati bukanlah hanya pelajaran akuntansi semata..
Namun tentang rahasia sebuah agama yang mulia.
Itulah Islam..

Ha?! Aku baru tau itu semua?
Pakaian taqwa, ideologi, hukum syara’, dan lain sebagainya?!
Cukup… cukup bagiku untuk menepuk jidat kepala.
Kudalami setiap kata dari kajian yang kuterima..
Glekk..
Melihat memori lama, bikin pusing kepala!
10, 20, 100, 1000, .. ngitung apa?!
Ngitung dosaaa…. T-T

Hmmh.. satu persatu, paradigma lama kubuang semua.
Kuganti dengan Ideologi Islam semata.
Hidup itu.. ternyata hanya untuk beribadah kepada Allah ya?
(TQS. Adz-Zariyaat : 56)
Jadii.. Gimana??

Beberapa waktu pun berlalu..
Akhirnya sang pengembara tau tujuan hidupnya..
Tau tentang apa yang harus ia lakukan setelahnya..
Kemudian ia pun datang ke tempat yang baru,
Zona nyaman telah berakhir!

Yaa.. kini aku berada ditempat yang berbeda,
lingkungan yang agak berbeda dari sebelumnya..
Namun dengan perjuangan yang sama.
Kuhadapi banyak kejadian yang penuh makna,
Kudapati pula pengorbanan yang sebenarnya..

Dakwah!

Iya itulah maksudnya!
Jatidiri sebagai mahasiswa menuntut perubahan diujung masa.
Bukan sekedar ucapan belaka, namun perlu aksi yang nyata!
Iyaa Action bahasa inggrisnya!

Ahh, betapa bertebaran puing-puing asa atas masa lalu yang tersisa.
Mengapa tak kuhabiskan waktuku dengan melihat kehancuran dunia?
Hingga aku begitu geram untuk merubahnya.

Tidakkah heran menengok tumpukan buku bersejarah?
Pengetahuan dan ayat-ayat cinta yang diturunkan-Nya?
Sadarkah itu hal yang paling luar biasa?!
Heran dulu tak terpikir untuk mendalaminya.

Walhasil gerah dibuatnya,
Masa-masa kritis untuk menyebarkan agama yang mulia…
Disibukkan juga dengan memupuk bekal tuk diasah bersama.
Olalaaa..

Akhirnya aku sadar juga.
Aku telah dibuat jatuh cinta oleh-Nya.
Hemmm,,
Apakah aku layak menjadi pejuang agama-Nya?

Islam yang mulia terpatri dalam jiwa.
Kejayaannya pun mulai terlihat diujung mata.
Adakah yang tak melihatnya?!
Ayolaahh.. ajak mereka menengoknya!

Karna itu kabar gembira!
Bisyaroh Rasul-Nya kawan!
Maukah kau pegang tanganku? :)
Berjalanlah bersamaku, berlari menuju ampunan-Nya.
Sama2 berjuang meraih ridla-Nya ^_^
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tunggu! Ini belum berakhir!

Aku tidak bercanda,
Lihatlah mataku (seolah-olah engkau melihatnya)

Kau tau? (aku yakin kau tau)
Islam begitu mulia dengan segala kesempurnaan’nya…
Adakah kau berpikir?
Siapa saja yang sudah menyadarinya?

Aku, kamu, dan siapa?
Wahh… buih-buih lautan sepertinya sangat banyak, namun apa artinya mereka?
Hei! Apakah kau pernah mendengarnya?
Itulah yang pernah dikatakan oleh Rasul-Nya!

Jumlah kita (kaum muslim) sangatlah banyak, iya bukan?!
Tapiii.. seberapa banyak dari kita yang merasakan kemuliaan dan keindahannya?
Hmmh,, mungkin sebagian kita hanya pernah melihatnya dalam lembaran-lembaran bersejarah..

Cling!
Lampu bohlam muncul.

Apakah semua itu hanya untuk dikenang dalam sejarah?
Kemuliaannya, kejayaannya, peradaban gemilangnya?
Hmm… rasanya kurang srek!
Coba kita tengok salah satu ayat cinta yang diturunkan-Nya…

“ Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya : 107)

Uwiiiihhhh..
Keren ya?! Seluruh alam???
Hmmh,, bukankah itu sebuah janji Allah untuk kemuliaan Islam?

Tunggu!
Kutengok dunia sekitar..
Aku seorang Muslim. Kamu, dia dan mereka.
Di negara kita yang sama.
Muslim kan ya?!

Islam mulia? Benarkah adanya?
Iyaa! itu tak usah ditanya!
Maksudku… apakah mulia-nya terlihat secara kasat mata?
Kegemilangan’nya? Seperti dalam lembaran sejarah??

Hmm… kurasa tidak.
Lalu kenapa? Kemana janji-Nya untuk kita?
Ahh, aku yakin tak ada yang salah dengan janji-Nya.
Laluuu? Apakah ada yang salah dengan kita?

Indonesia jambul katulistiwa.
Lembaran ayat-ayat cinta-Nya begitu indah terlantun dengan berbagai irama.
Katanya populasi muslim terbanyak di dunia.
Pujian-pujian ituuu.. Adakah gunanya?

Rakyat menderita. Kejahatan merajalela.
Pembunuhan dimana-mana. Pemerkosaan sudah biasa.
Kemaksiatan selalu ada didepan mata.
Perubahan tak kunjung datang sepertinya?!

Bagaimana ini?

Kubuka lagi buku sejarahnya..
Dulu Islam begitu mulia. Hingga mampu menguasai 2/3 dunia!
Kegemilangannya membuat Barat tunduk didepannya.
Kejayaannya terkenal diseluruh penjuru dunia.
Dan Peradabannya menghasilkan insan-insan mulia,
Dengan berbagai kemajuan yang dimilikinya.

Ku mulai pusing kepalaa..
Bagai tebing dan dasar jurang perbedaannya!

Ahh, kurasa islam dulu dengan islam sekarang sama.
Al-Qur’an pun telah mutawatir dibuat-Nya.
Populasinya tak usah ditanya.
Tuing, tuing, tuing.
Benjolan tanda tanya pun mulai menempel diatas kepala.

Owalaaa..
Aku tak menduga. Semua itu kesalahan kita semua!

Kenapa??
Adakah yang salah dengan kita?!

Ya! Pasti ada!

Hmmhh,, tak pernah aku menyangka..
“Ini semua karena tidak diterapkannya Islam oleh kita.”
Yaelaaa, itu mah gak usah ditanyaaaa.

Bukan sekedar itu kawan..
Juga karena Islam tidak diterapkan oleh negara!
Dan karena kemerosotan berpikir yang membuat kita tak gerah untuk merubahnya!

???

Yaa,, sudah kubilang, Islam dan Al-Qur’an kita sama.
Hanya 2 hal itu yang berbeda.
Tidak diterapkannya Islam dan kemerosotan berpikir yang nyata!

Lalu bagaimana caranya?

Mari duduk bersamaku,
Dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berdakwah demi kemuliaan Islam.
Kemudian beliau mendirikan sebuah institusi politik untuk menggencarkan dakwah keseluruh dunia.
Yakni dengan mendirikan sebuah negara Islam. Kau tau bukan?

Yaa,, dengan negara itulah Rasul mampu menerapkan Islam secara menyeluruh
Dan membina ummatnya untuk berpikir cemerlang dalam mencapai kegemilangan.
Negara itu adalah negara Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah.
Ahh,, begitu rindunya aku... Apakah kau merindukannya juga?

Hmm, negara itulah yang mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah.
Namuun…
14 abad berlalu, kaum Barat yang berkali-kali kalah dalam memerangi negara Islam.
Mereka mulai sadar, kekuatan fisik mereka tak akan mampu mengalahkan pejuang-pejuang Islam yang teguh imannya.
Kemudian mereka pun menggantinya dengan perang pemikiran.
Hingga akhirnya, negara Khilafah pemersatu ummat itupun mampu dihancurkan oleh Mustafa Kemal Ataturk.
Ummat Islam pun tersekat-sekat dengan Nasionalisme.
Satu persatu mulai dipengaruhi oleh Barat, menjadi budak dunia.
Yahh… lihat saja Indonesia, inilah salah satu korbannya.

Hmmh, betapa malangnya kaum Muslim.

Kawan…
Sekali lagi, maukah kau ikut bersamaku?
Aku ingin mengajakmu untuk berjalan disebuah jalan yang berliku..
Tidak, bukannya aku ingin mengajakmu sulit..
Aku hanya ingin mengajakmu menuju suatu tempat yang indah,

Kau tau? Jalanan berliku itu adalah sebuah perjuangan yang mulia.
Yaa.. Itulah jalan dakwah.
Mengapa harus dakwah kawan?
Yaa,, karena hanya dengan dakwah kita bisa meraih kembali kemuliaan islam.
Mari kita genggam tangan saudara-saudara kita,
Kaum muslimin, dimana pun ia berada.. ia adalah saudara kita..
Bagaimanapun juga, kita harus menyadarkannya untuk meraih kembali kegemilangan yang nyata.
Yakni dengan memperjuangkan kembali negara islam yang pernah didirikan Rasul-Nya.
Dengan memperjuangkan kembali tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah..

^_^