Sepertinya ini adalah pembahasan yang sangat menarik bagi
seseorang yang bergulat dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam..
^_^
Bagaimana tidak? Kedua versi pendidikan ini sangat bertolak
belakang dari segi konsep maupun proses dan outputnya.. dan bertolak
belakangnya kedua pendidikan ini sangat berpengaruh terhadap bangkit tidaknya
sebuah generasi, namun seringkali para pendidik tidak menyadarinya, atau bahkan
membiarkan’nya..
Sebelum membahas lebih lanjut, saya punya sedikit cerita
tentang diri saya sendiri..
Dulu ketika jaman-nya SD (Sekolah Dasar), saya itu
kepengeeen banget cepet-cepet masuk SMP, karena pikir saya SMP itu akan lebih
menarik dari SD, namun ketika menjelang kelas 2 SMP, rasanya begitu tak sabar
ingin memakai rok abu-abu, sepertinya dunia SMA akan lebih menyenangkan lagi..
Tapiiii, setelah masuk SMA, bukan kepalang begitu kebeletnya
pengen cepet-cepet lulus,,
Dan setelah lulus,, awalnya merasa puas dan begitu
bersemangat ketika memasuki dunia kuliah.. Tapi lama kelamaaaan.. Wleee,
rasanya pengen cepet-cepet lulus lagiii, -_- hehe,
Sebenarnya ini cerita yang biasa, bahkan mungkin saja
dialami oleh kebanyakan anak di Indonesia? Bukan hal yang mustahil kan?
Pertanyaan’nya adalah… kenapa saya atau bahkan anak2 lain begitu
‘selalu tidak sabar’ untuk melalui setiap jenjang pendidikan yang dilewati?
Sekali lagi, KENAPA?
Hayooo, ada yang tau gak?
Tadinya pun saya sempat bingung yang intinya ‘Sebenernya apa
yang menjadi tujuan saya?’ ketika di SD ingin cepat2 SMP, lalu SMA, kuliah dan
seterusnya.. Seolah-olah ketika menjalani pendidikan yang ada dipikiran saya
hanyalah ‘KAPAN LULUS?’ tanpa memikirkan apa yang ada dalam prosesnya..
Hmm, pertanyaan ini pun sangat menarik perhatian saya,
karena hal itu masih berputar-putar di otak saya, hingga akhirnya saya
menemukan suatu fakta luar biasa yang tak pernah saya duga.
Yaa, yang saya temukan adalah, saat ini… saya dan semua
peserta didik lainnya sedang berada dalam sistem ‘PENDIDIKAN KAPITALIS’..
What is the meaning of Capitalism Education?
Yaa artinya pendidikan kapitalis.. -_-
Iyaa maksudnya apa itu Kapitalis?
Apa anda baru saja mendengar kata itu? Kalau iya, berarti
pendidikan anda selama ini diragukan, hehe..
Intinyaa, Kapitalis itu berasal dari kata Kapital atau
Capital yang artinya MODAL.
Apa hubungan’nya pendidikan sama modal? Sabar sabaaaar..
Jadi, kapitalis adalah para pemilik modal, yang dimana
pendidikan yang ada dalam sistem kapitalis dijadikan sebagai pendidikan yang
dibuat sedemikian rupa untuk menguntungkan para pemilik modal alias pengusaha..
Pendidikan Kapitalis ini berasal dari Sistem Kapitalisme,
yaitu sistem yang menjadikan para pemilik modal / pengusaha menjadi pembuat
hukum di suatu negara..
Singkatnya begitu, dan intinyaaa.. ketika suatu Pendidikan
di KAPITALISASI, maka seluruh proses yang ada dalam pendidikan itu hanya dibuat
dan dirancang untuk MENGUNTUNGKAN PEMILIK MODAL.
Waduh, serem juga yah… Terus apa hubungan’nya dengan cerita
saya yang tadi?
Jadi begini, Pendidikan itu pada hakikatnya dibuat untuk
mencerdaskan sebuah generasi, agar suatu generasi itu menjadi generasi yang
berkualitas dan menjadi generasi yang maju serta cemerlang.
Tapi, ketika pendidikan tersebut hanya dijadikan sebagai
‘alat’ untuk mencari keuntungan (oleh para pemilik modal) maka seluruh proses
yang ada di dalamnya pun bertujuan untuk ‘mencari keuntungan’ tanpa memikirkan
‘hakikat’ pendidikan yang sebenarnya.
Akhirnya, apa yang terjadi?
Anak TK sudah dipaksa belajar baca tulis, karena persyaratan
masuk SD adalah sudah bisa baca tulis, padahal ketika usia TK anak belum
berkeinginan untuk membaca dan menulis, akhirnya anak pun banyak yang malas
belajar karena merasa terpaksa, kalaupun sudah bisa baca tulis, maka ketika
masuk SD pun ia tidak akan merasa tertarik untuk membaca buku dan menulis
cerita, karena dulu ia belajar karena ‘dipaksa’, bukan karena keinginan’nya..
berbeda dengan anak kelas 2 atau kelas 3 yang sudah memiliki keinginan membaca
dan menulis lantaran merasa ‘butuh’ dan senang ketika dibacakan cerita, maka
ketika sudah bisa pun ia akan senang untuk membaca dan menulis.
Belum lagi di jenjang 1-6 SD anak sudah diajarkan rumus
matematika yang rumit, ataupun pelajaran PPKN yang membosankan? Yang mereka
belum merasa butuh akan semua itu.. akhirnya anak pun merasa tak bersemangat
dalam belajar, aktifitas sekolah pun hanya dijadikan sebagai rutinitas belaka..
Asal sekolah, mengerjakan tugas, belajar seadanya, sudah deh..
Ditambah lagi ketika SMP yang seharusnya anak sedang
masa-masanya mencari jatidiri, sudah banyak disibukkan dengan PR yang rumit,
lagi-lagi matematika, ditambah dengan fisika, kimia dan biologi. Kalaupun ada
yang suka dengan eksak, tetap saja dibuat bosan dengan sosiologi, geografi dan
ekonomi? Ditambah bahasa indonesia yang materi’nya itu2 saja?
Akhirnya aktifitas sekolah menjadi hal yang membosankan, dan
WeekEnd menjadi kerinduan sepanjang pekan.. hehe,
Sudah membosankan, udah gitu dituntut untuk selalu ngerjain
tugas pula, padahal sekolah aja males, apalagi ngerjain tugas? Kalau gak
ngerjain tugas diancam gak dapet nilai, disetrap dan lain sebagainya… Akhirnya
contekan menjadi pilihan, ujian pun jadi ajang untuk lirik jawaban teman.
Dilajut lagi SMA, di kelas X (sepuluh) sudah dipadatkan
dengan semua mata pelajaran, kalau yang SMK sih agak lumayan seneng karena
pelajaran eksaknya sedikit, tapi tetap saja bosan.. Yang SMA disibukkan untuk
mendapatkan NEM yang besar, yang SMK disibukkan dengan praktek dan iming2 kerja
dengan mata berbinar, ujungnya cari cara apapun untuk bisa lulus dan dapet
nilai gede alias besar. Itu yang punya target, kalau yang gak punya target
lantaran males sekolah? Motto’nya ‘YANG PENTING LULUS’
Ckckck.. mengenaskan yah?
Apalagi yang KULIAH bro, baru masuk sih masih merasa seneng
dan serasa bebas..
Ditambah baju’nya gak seragam lagi, lumayan lah.. kayaknya
kuliah itu gak bosen, dan mungkin kelihatan’nya lebih gaul dari yang gak
kuliah..
Pas masuk kuliah beberapa bulaaan…
T_T
Kenapa bro?
BANYAK TUGAS BRO T_T
Hehee, sama aja ya ternyata?
Yaa, kuliah jaman sekarang emang gitu bro, bayaran’nya
mahal, kuliahnya banyak tugas, presentasi, makalah, essay, dan lain sebagainya.
Apalagi yang ngambil S1, teori semua ciiin… hehe,
Hmmm, ternyata gitu yah pendidikan jaman sekarang.
BUKAN! Lebih tepatnya bukan pendidikan jaman sekarang, tapi
PENDIDIKAN KAPITALIS yang diterapkan di jaman sekarang.
Why?
Pendidikan didalam kapitalis itu memang dirancang seperti
itu kawan..
SD, SMP, SMA dan KULIAH itu sebenarnya untuk apa sih? Untuk
belajar? Untuk cari ilmu? Untuk jadi Cerdas?
BOHONG! Kalau boleh saya jawab, semua itu Cuma biar dapet
IJAZAH aja, ya kan?
Dan segala sesuatu itu dilakukan hanya untuk mendapatkan
ijazah.
Dan mendapat IJAZAH itu untuk apa? Untuk KERJA. Betul?
Akhirnyaa.. Pendidikan pun hanya difokuskan untuk mendapat
nilai yang besar tanpa memperdulikan halal haram, yang penting nilai gede, IPK
gede, dan lain sebagainya. Yang ujung-ujungnya nilai gede itu sebagai orientasi
keberhasilan dan modal utama untuk kerja. Kalaupun nggak untuk kerja, paling
banter untuk banggain orang tua aja karena nilainya gede. Yang ada di pikirannya
hanyalah nilai, nilai dan nilai.
Heran ye, padahal eksistentinye ilmu itu bukan untuk dapet
nilai yang gede, Tapi buat dapet ilmu biar bisa diterapkan ye? Juga buat
cerdaskan diri kite.. (duh jadi kayak orang betawi)
Teruus nih yaa, selain nilai.. Apapun dibela-belain, bayaran
kuliah mahal tetep di bela-belain (hiks), belum lagi harus print makalah, beli
buku, segala macem. Semuanya di bela-belain.. Cuma demi bisa jadi The Best
Student, The Best Grade, The Best Skill, and The BestO ! (lho jadi chicken
dong)
Padahal nih bro, biaya hidup aja udeh suseh. Ditambah
pendidikan yang mahal dan gak ada yang nanggung semua biaya itu selain ortu
atau diri kita sendiri. Kesejahteraan pun jauh dari genggaman.
Yang akhirnyaaa.. Pikiran setelah sekolah atau kuliah itu
BUKAN tentang bagaimana mempertanggung jawabkan dan menerapkan ilmu yang telah
di dapatkan, tapi tentang bagaimana cari kerja yang mapan untuk ganti semua
modal di depan.
So,, Idealisme ilmu pun tinggallah buih-buih beterbangan….
Ngenes.
Coba kita pikirkan, ketika jaman serba sulit, ketika
pendidikan serba mahal (hiks lagi), dan ketika belajar itu sudah ter-mindset
menjadi hal yang membosankan,
Tapi di sisi lain.. untuk bekerja, kita TIDAK PERLU memakai
IJAZAH? Asal punya kemampuan, maka siapapun bisa bekerja.
Jika seperti itu.. MUNGKIN TAK ADA YANG MAU SEKOLAH ataupun
KULIAH. Haha,
Ya iyalah, kalau gak perlu ijazah tapi bisa kerja dengan
posisi mana aja, siapa yang mau sekolah dengan pendidikan yang membosankan
tadi?
Tapi sayangnya di sistem kapitalis semuanya perlu
sertifikasi bro, kalau mau dapet kerja yang bagus, yaa harus punya IJAZAH.
Hehee, hayooo ketauan yang sekolahnya Cuma pengen dapet
ijazah untuk cari kerja ajaa :D
Ehm, kembali pada KAPITALIS.
Yaa, itulah sistem kapitalis, Pendidikan hanya difokuskan
untuk mencari kerja, dan kerja difokuskan untuk mencari uang, karena uang
adalah hal yang sangat penting untuk memenuhi kehidupan sekarang.. Ditambah,
pendidikan pun dibuat lama dan begitu banyak jenjang, untuk apa? Sekali lagi
untuk menguntungkan kapitalis. Karena pendidikan itu mahal, dan semakin lama
pendidikan, maka semakin lama para kapitalis menikmati hasilnya..
Belum lagi sistem kapitalis ini memang sengaja dirancang
oleh orang-orang kafir (baca: kaum barat) untuk menumpulkan kecerdasan generasi
muslim. Bagaimana tidak? Pendidikan yang harusnya dibuat menyenangkan dalam
rangka mencerdaskan ummat, kini dibuat lama dan membosankan, serta hanya
disetting untuk mendapatkan pekerjaan. Maka orientasi generasi muda saat ini
pun hanya terfokus pada Nilai, Kelulusan dan mendapat pekerjaan. Esensi untuk
“Mencari Ilmu” dan “Membuat Cerdas” pun hilang.
Akhirnya yang diuntungkan hanyalah para kapitalis. Selain
itu, di dunia kerja pun, lagi-lagi kapitalis yang diuntungkan. Semakin banyak
yang bekerja, semakin suburlah industri mereka. Semakin laku pula produk
mereka, dan semakin banyak keuntungan yang mereka dapatkan.
Coba pikirkan lagi, dalam sistem kapitalis, kau hanya sekolah
untuk mendapat ijazah, ijazahmu hanya untuk mendapat pekerjaan, dan pekerjaanmu
hanya untuk mencari uang, dan uang untuk memenuhi kebutuhan..
Sedangkan di sisi lain, kau sekolah dan bayar mahal,
semuanya dinikmati para pemilik modal, kau mendapat pekerjaan pun, mereka yang
mendapat keuntungan. Karena mereka mendapat hasil, sedang engkau menjadi buruh,
bahkan ketika engkau mendapat uang dan memenuhi kebutuhan, produk yang kau beli
pun adalah produk mereka, maka siapa lagi yang diuntungkan? Mereka. Para
pemilik modal. J
Wahh,, luar biasa panjang cerita saya, tapi ini belum
selesai kawan..
Setelah membahas begitu kejamnya pendidikan kapitalis, lalu
bagaimana dengan pendidikan Islam? Apakah berbeda? Apakah lebih baik?
Yaa, tentu saja. Begini ceritanyaaa..
Islam adalah agama yang sempurna, didalamnya terdapat
seluruh aturan hidup manusia dalam berbagai aspek kehidupan.. Dimulai dari
ibadah, pergaulan, ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, semuanya diatur
dalam Islam. Benar bukan?
Maka Islam pun memiliki aturan yang cemerlang.
Mari kita tengok masa kejayaan Islam beberapa abad yang
lalu..
Ummat Islam memiliki sebuah negara yang disebut dengan
Kekhilafahan, dan kaum muslim dipimpin oleh seorang Khalifah,, dari mulai
Rasulullah, para shahabat dan seterusnya, selalu ada Khalifah yang menjadi
pemimpinnya..
Semua permasalahan kaum muslim pun diatur dengan Islam, yang
akhirnya terciptalah kedamaian dan kesejahteraan. Hingga terlahirlah para
ilmuan-ilmuan muslim seperti Ibnu Sina ilmuan kedokteran yang menemukan
alat-alat bedah, Ibn Khaldun sebagai bapak sosiologi, Al-Khawarismi sebagai
ahli matematika, Imam Syafi’I yang menjadi ahli Fiqh dan mendirikan sebuah
madzhab dan lain sebagainya..
Pertanyaan’nya, bagaimana bisa ilmuan-ilmuan hebat itu
berasal dari ummat Islam?
Karena pada saat itu pendidikan Islam diterapkan.. Pada saat
itu, generasi muslim di didik oleh para ibu yang luar biasa, pada saat kecil
mereka sudah diperdengarkan dengan ayat-ayat al-qur’an hingga hari-hari mereka
diliputi dengan ketenangan, pada usia dini mereka ditanamkan dengan
tsaqofah-tsaqofah islam hingga akhirnya terbentuklah keimanan yang kuat dan
jiwa yang dekat dengan Allah..
Beranjak remaja, mereka diarahkan untuk mencari jatidirinya,
potensi yang telah terlihat pun dilatih dan dikembangkan, kedekatan mereka
dengan Allah-lah yang membuat mereka
tekun dalam menuntut ilmu, pendidikan pun benar-benar di setting untuk
mencerdaskan generasi dalam rangka melahirkan penemuan-penemuan yang berguna
untuk manusia..
Tak ada pendidikan yang membosankan, karena semuanya
didasari dengan keikhlasan dan meraih ridla Allah sebagai tujuan. Orientasinya
pun bukan tentang seberapa besar nilai yang akan didapatkan, tapi seberapa
banyak ilmu yang diterima, diamalkan, diajarkan dan dipertanggung jawabkan..
Lalu, bagaimana dengan kebutuhan hidup mereka? Apakah mereka
tidak membutuhkan pekerjaan?
Kebutuhan hidup kaum muslim pada saat itu telah dijamin oleh
negara, zakat diwajibkan, riba diharamkan. Fakir, miskin hingga 8 asnaf lainnya
mendapatkan hak-nya dengan ahsan. Pendidikan diwajibkan dan di-GRATIS-kan,
kesehatan dijamin sepenuhnya tanpa harus berbayar sedikitpun, karena menjamin
kehidupan rakyat adalah kewajiban. Pekerjaan pun bukan menjadi tuntutan
kebutuhan, melainkan untuk beribadah dalam rangka menafkahi keluarga. Tak ada
lagi pendidikan yang hanya menjadikan nilai dan pekerjaan menjadi tujuan.
Akhirnya terciptalah sebuah keadaan yang kondusif untuk
menuntut ilmu sedalam-dalamnya untuk kemaslahatan manusia, ummat muslim pun
tidak disibukkan untuk mencari ijazah, pekerjaan dan orientasi dunia lainnya.
Melainkan disibukkan untuk mendekatkan diri pada Allah dan
menghasilkan penemuan gemilang untuk ummat manusia terlebih ummat Islam.
Bahkan, Ketika itu.. Sebuah karya berupa buku pun ditimbang seberat emas sebagai
penghargaan bagi penulisnya.. Guru pun dimuliakan dan diagungkan, yang jelas
imbalan’nya pun tidak diragukan..
Wahh.. Sangat berbeda dengan Pendidikan Kapitalis bukan?
Pendidikan Kapitalis orientasinya hanyalah materi dan
dunia.. Namun di dalam Pendidikan Islam, orientasinya adalah ridla Allah dan
Kegemilangan Peradaban.
Tapii.. Sayang sekali kawan, pendidikan Islam sudah tak lagi
diterapkan. Kalaupun diterapkan, hanya bersifat parsial (sebagian) di beberapa
lembaga saja. Itu pun tidak didukung dengan sistem yang ada sekarang..
Bisa sih kita menerapkan pendidikan Islam, namun Kebutuhan
hidup pun masih menjadi pertimbangan.. Semua itu dikarenakan saat ini kita
masih berada dalam SISTEM KAPITALIS bukan Sistem Islam. Dan Kaum muslimin pun
sudah tak memiliki perlindungan dari seorang Khalifah, bahkan telah terpecah
belah menjadi beberapa negara bagian.. Maka tak heran jika tak terlihat lagi
generasi cemerlang yang pernah lahir di abad kejayaan..
Semua itu KARENA ISLAM TIDAK DITERAPKAN.
Sebagai seorang muslim yang memiliki keimanan, tentu kita
sangat merindukan Sistem Islam yang mampu menerapkan pendidikan Islam untuk
melahirkan generasi yang gemilang bukan?
Dan semua itu hanya bisa terwujud ketika Islam kembali
diterapkan, ketika kaum muslimin bersatu padu dalam sebuah Negara Islam, yakni
Khilafah Rasyidah ala Manhaj Kenabian..
Lalu apa tugas kita sebagai generasi Islam terlebih yang
bergulat dalam bidang pendidikan?
Tentu saja memperjuangkan kembali Islam untuk diterapkan,
agar terlahir kembali Peradaban Islam yang melahirkan Generasi yang Cemerlang..
Ayoo berjuang! ^_^